Tafsir Al-Qur’an Surah آل عمران / Ali ‘Imran Ayat 188 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{2} Al-Baqarah / البقرة Indeks Al-Qur’an النساء / An-Nisa {4}

Tafsir Al-Qur’an Surat آل عمران / Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 3 Tafsir ayat Ke 188.

Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran Ayat 188

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

lā taḥsabannallażīna yafraḥụna bimā ataw wa yuḥibbụna ay yuḥmadụ bimā lam yaf’alụ fa lā taḥsabannahum bimafāzatim minal-‘ażāb, wa lahum ‘ażābun alīm

QS. Ali ‘Imran [3] :188

Arti / Terjemah Ayat

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Janganlah orang-orang yang berbangga dengan apa yang mereka kerjakan berupa perbuatan-perbuatan buruk dari kalangan orang-orang Yahudi, munafik dan lainnya, dan mereka suka disanjung dengan apa yang tidak mereka kerjakan, janganlah mereka menyangka bahwa mereka akan selamat dari azab Alllah di dunia, sementara di akhirat mereka mendapatkan azab yang menyakitkan. Ayat ini merupakan ancaman serius terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan buruk dan membanggakannya, dan orang-orang yang membanggakan sesuatu yang tidak dilakukannya agar orang-orang menyanjung dan memujinya.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan., hingga akhir ayat.

Yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang suka pamer yang ingin dipuji dengan apa yang tidak pernah mereka berikan (lakukan). Seperti pengertian yang ada di dalam kitab Sahihain, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, yaitu:

Barang siapa yang mengucapkan suatu pengakuan secara dusta dengan tujuan ingin dipuji karenanya, maka Allah tidak menambahkan kepadanya melainkan kekurangan.

Di dalam hadis Sahihain disebutkan pula dengan keterangan yang lebih jelas, yaitu:

Orang yang ingin terpuji dengan apa yang tidak pernah ia berikan sama saja dengan orang yang memakai pakaian dusta dua lapis.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajah, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah, Humaid ibnu Abdur Rahman ibnu Auf pernah menceritakan kepadanya bahwa Marwan pernah berkata kepada Rafi’ (yaitu pengawal pribadinya), “Berangkatlah kamu kepada Ibnu Abbas dan katakanlah, ‘Jika setiap orang dari kita disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah ia kerjakan dan suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum ia kerjakan, niscaya kita semua akan disiksa’.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Mengapa kamu berpemahaman demikian terhadap ayat ini? Sesungguhnya ayat ini diturunkan hanya berkenaan dengan orang-orang Ahli Kitab.” Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. (Ali Imran:187-188), hingga akhir ayat. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah menanyakan sesuatu kepada mereka (Ahli Kitab) dan mereka menyembunyikannya serta memberitahukan hal yang lain kepadanya. Setelah itu mereka keluar dengan perasaan bahwa mereka telah memperlihatkan kepada beliau bahwa mereka telah menceritakan kepada beliau apa yang beliau tanyakan kepada mereka. Mereka ingin dipuji dengan perbuatan tersebut serta merasa gembira karena perbuatan mereka menurut mereka berhasil mengelabuinya dengan memberikan jawaban lain dan menyembunyikan jawaban yang sebenarnya dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim dan Imam Turmuzi serta Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya masing-masing, juga Ibnu Abu Hatim, Ibnu Khuzaimah, Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, dan Ibnu Murdawaih. Semua meriwayatkannya melalui hadis Abdul Malik ibnu Juraij dengan lafaz yang semisal.

Imam Bukhari meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Alqamah ibnu Waqqas, bahwa Marwan pernah berkata kepada pengawal pribadinya, “Hai Rafi’, berangkatlah kamu kepada Ibnu Abbas,” lalu Imam Bukhari menuturkannya hingga akhir hadis.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa sejum-lah kaum lelaki dari kalangan orang-orang munafik di masa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ apabila Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berangkat ke suatu medan perang, maka mereka tidak mau ikut dan tetap tinggal di Madinah, mereka merasa gembira dengan ketidakikutsertaan mereka yang bertentangan dengan prinsip Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Tetapi apabila Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tiba dari medan perang, mereka meminta maaf kepadanya dan bersumpah untuk memperkuat alasan mereka. Mereka merasa gembira dengan apa yang tidak pernah mereka kerjakan. Lalu turunlah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. (Ali Imran:188), hingga akhir ayat.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Al-Lais ibnu Sa’d, dari Hisyam ibnu Sa”d, dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa Abu Sa’id, Rafi’ ibnu Khadij, dan Zaid ibnu Sabit semuanya pernah menceritakan, “Ketika kami berada di majelis Marwan, lalu Marwan berkata, ‘Hai Abu Sa’id, bagaimanakah pendapatmu dengan firman-Nya: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. (Ali Imran:188), sedangkan kami gembira dengan apa yang telah kami kerjakan dan suka bila dipuji terhadap perbuatan yang belum kami kerjakan?’.” Abu Sa’id menjawab, “Makna ayat ini tidaklah seperti itu. Sesungguhnya hal tersebut ditujukan kepada sejumlah orang dari kalangan kaum munafik. Mereka tidak ikut apabila Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengirimkan pasukannya. Jika pasukan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendapat musibah, mereka merasa gembira karena ketidakikutsertaan mereka. Tetapi jika pasukan kaum muslim beroleh pertolongan dari Allah dan kemenangan, maka mereka mengadakan perjanjian pakta pertahanan bersama kaum muslim, dengan maksud mengambil hati kaum muslim agar kaum muslim memuji mereka karena simpati mereka kepada kemenangan yang dicapai oleh kaum muslim.” Marwan berkata, “Mengapa pengertiannya demikian?” Abu Sa’id berkata, “Orang ini mengetahui hal tersebut.” Marwan berkata, “Apakah memang demikian, hai Zaid?” Zaid menjawab, “Ya, benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Sa’id.” Kemudian Abu Sa’id berkata, “Orang ini pun mengetahui hal tersebut, (yang dimaksud ialah Rafi’ ibnu Khadij), tetapi ia khawatir jika menceritakannya kepadamu maka kamu nanti akan mencabut bagian sedekah untanya.” Ketika mereka telah keluar dari tempat Marwan, maka Zaid berkata kepada Abu Sa’id Al-Khudri, “Mengapa engkau tidak memuji diriku yang telah mempersaksikan untukmu?” Abu Sa’id berkata kepadanya, “Engkau telah mempersaksikan perkara yang hak.” Zaid ibnu Sabit berkata, “Mengapa engkau tidak memujiku yang telah melakukan kesaksian perkara hak bagimu?”

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula melalui hadis Malik, dari Zaid ibnu Aslam, dari Rafi’ ibnu Khadij, bahwa ia dan Zaid ibnu Sabit pernah berada di tempat Marwan ibnul Hakam yang menjabat sebagai amir kota Madinah. Marwan berkata, “Hai Rafi’, sehubungan dengan peristiwa apakah ayat ini diturunkan?” Lalu Ibnu Murdawaih mengetengahkan hadis yang sama seperti apa yang diriwayatkannya dari Abu Sa’id r.a. Sesudah peristiwa itu Marwan ibnul Hakam mengutus seseorang kepada sahabat Ibnu Abbas untuk menanyakan hal tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas. Lalu Ibnu Abbas menjawab seperti apa yang telah kami terangkan di atas.

Tidak ada perbedaan antara apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dengan apa yang dikatakan oleh mereka, mengingat ayat bermakna umum mencakup semua apa yang telah disebutkan.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula melalui hadis Muhammad ibnu Atiq dan Musa ibnu Uqbah, dari Az-Zuhri, dari Muhammad ibnu Sabit Al-Ansari atau Sabit ibnu Qais Al-Ansari yang telah berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah aku merasa khawatir bila menjadi orang yang binasa.” Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bertanya, “Mengapa?” ia mengatakan, “Allah telah melarang seseorang suka bila dipuji terhadap apa yang tidak dikerjakannya, sedangkan diriku ini suka dengan pujian. Allah telah melarang berbuat sombong sedangkan diriku ini suka keindahan (menghias diri). Allah melarang kami mengangkat suara lebih dari suaramu, sedangkan aku ini adalah orang yang keras suaranya.” Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: “Tidakkah engkau suka bila kamu hidup terpuji, gugur dalam keadaan syahid, dan masuk surga?” ia menjawab, “Tentu saja mau, wahai Rasulullah.” Maka ia hidup terpuji dan gugur sebagai syahid dalam perang melawan Musailamah Al-Kazzab.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

…janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.

Lafaz tahsabannahum dibaca dengan memakai huruf ta menunjukkan makna lawan bicara hanya satu orang, dapat pula dibaca dengan memakai huruf ya dengan makna menceritakan keadaan mereka.

Dengan kata lain, janganlah kamu mengira bahwa mereka selamat dari siksa Kami, bahkan mereka pasti terkena siksa Kami. Karena itulah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman dalam firman berikutnya:

…dan bagi mereka siksa yang pedih.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan,” yaitu berupa keburukan dan kebatilan perkataan maupun perbuatan, وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا “dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan”, maksudnya, (dipuji) dengan kebaikan yang tidak mereka kerjakan dan kebenaran yang belum mereka katakan. Mereka telah menyatukan antara perbuatan buruk dan perkataan buruk, serta gembira akan hal tersebut dan suka akan pujian terhadap perbuatan baik yang belum mereka kerjakan. فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ “Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa,” maksudnya, berposisi selamat dan bebas, akan tetapi mereka berhak mendapat siksa, dan mereka akan menuju kepadanya. Karena itu Allah ﷻ berfirman, وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih.”

Termasuk dalam ayat yang mulia ini adalah ahli Kitab yang bergembira dengan sesuatu yang ada pada mereka berupa ilmu, namun mereka tidak tunduk kepada Rasul, dan mereka menyangka bahwa merekalah yang benar dalam kondisi riil dan pandangan hidup mereka. Demikian juga setiap orang yang berbuat bid’ah, baik perkataan maupun perbuatan, dan senang dengannya, lalu mengajak orang kepadanya, dan menyangka bahwa dia benar dan selainnya batil, sebagaimana umumnya terjadi pada ahli-ahli bid’ah.

Ayat ini dengan pemahamannya menunjukkan bahwa barangsiapa yang suka dipuji dan disanjung dengan apa yang telah diperbuatnya berupa kebaikan dan mengikuti kebenaran, apabila tujuannya bukanlah ingin dilihat (riya`) dan didengar (sum’ah), maka hal tersebut tidaklah tercela. Bahkan hal ini termasuk perkara yang dianjurkan, yang telah Allah ﷻ kabarkan bahwa Allah ﷻ akan memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dalam perkataan maupun perbuatan, dan bahwa Allah ﷻ akan memberikan balasan terhadap hamba-hambaNya yang dicintaiNya, dan mereka memohon hal itu kepadaNya; seperti perkataan Ibrahim ‘alaihissalam,

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (Asy-Syu’ara`: 84).

Dan Allah ﷻ berfirman,

سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ (79) إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (80)

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguh-nya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Ash-Shaffat: 79-80).

Hamba-hamba dari Yang Maha Rahman berkata,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74).

Itu semua adalah nikmat Sang Pencipta atas hamba-hamba-Nya, di mana itu semua membutuhkan sikap syukur.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Jangan sekali-kali kamu, wahai rasulullah, meyakini dan mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan meskipun yang mereka lakukan itu perbuatan dosa atau maksiat sekali pun dan mereka suka dipuji dengan membanggakan diri atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Mereka, yakni orang-orang yahudi, menutupi berita yang disampaikan nabi, kemudian mereka menyampaikan berita itu kepada orang lain dengan mengatasnamakan dirinya, sehingga di mata orang lain merekalah yang paling paham tentang isi kitab suci. Apa yang mereka lakukan tersebut adalah demi mengharapkan pangkat dan kedudukan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, jangan sekalikali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab lantaran Allah telah menghapus pahala dari hasil usahanya dan membatalkan amalnya, karena mereka telah berbuat bohong. Mereka akan mendapat azab yang pedih akibat perbuatan dosa yang mereka lakukandan milik Allah-lah seluruh kerajaan langit dan bumi dengan segala isinya, dan Allah mahakuasa atas segala sesuatu terhadap ciptaan-Nya dengan memberinya kehidupan dan rezeki, mengatur, mematikan, membalas, dan menghitung setiap amal perbuatan manusia.


Ali ‘Imran Ayat 188 Arab-Latin, Terjemah Arti Ali ‘Imran Ayat 188, Makna Ali ‘Imran Ayat 188, Terjemahan Tafsir Ali ‘Imran Ayat 188, Ali ‘Imran Ayat 188 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Ali ‘Imran Ayat 188


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *