Tafsir Al-Qur’an Surah المائدة / Al-Ma’idah Ayat 20 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{4} An-Nisa / النساء Indeks Al-Qur’an الأنعام / Al-An’am {6}

Tafsir Al-Qur’an Surat المائدة / Al-Ma’idah (Jamuan (Hidangan Makanan)) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 5 Tafsir ayat Ke 20.

Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah Ayat 20

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

wa iż qāla mụsā liqaumihī yā qaumiżkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż ja’ala fīkum ambiyā`a wa ja’alakum mulụkaw wa ātākum mā lam yu`ti aḥadam minal-‘ālamīn

QS. Al-Ma’idah [5] :20

Arti / Terjemah Ayat

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Ingatlah wahai Rasul saat Musa berkata kepada umatnya, “Wahai Bani Israil, ingatlah kalian terhadap nikmat Allah kepada kalian, manakala Allah menjadikan nabi-nabi dari kalangan kalian, menjadikan kalian sebagai penguasa-penguasa di mana kalian menguasai urusan kalian setelah sebelumnya kalian ditindas oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Allah telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kalian di mana Dia tidak memberikannya kepada seorang pun di zaman kalian.”

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Allah menceritakan tentang hamba dan Rasul-Nya yang juga merupakan orang yang pernah diajak bicara langsung oleh-Nya, yaitu Nabi Musa ibnu Imran a.s. Kisahnya menyangkut peringatan yang ia sampaikan kepada kaumnya akan nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada di tangan mereka, yaitu Allah menghimpunkan bagi mereka kebaikan dunia dan akhirat sekiranya mereka tetap berada pada jalannya yang lurus. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian.”

Yakni setiap nabi meninggal dunia, maka bangkitlah di antara kalian nabi lainnya, sejak zaman kakek moyang kalian Nabi Ibrahim sampai masa-masa sesudahnya. Demikianlah keadaan mereka, masih tetap ada nabi-nabi dari kalangan mereka yang menyeru kepada agama Allah dan memperingatkan mereka akan pembalasan-Nya, sehingga diakhiri oleh Nabi Isa ibnu Maryam a.s.

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada penutup seluruh para nabi dan rasul, yaitu Nabi Muhammad ibnu Abdullah yang nasabnya. sampai kepada Nabi Ismail a.s. ibnu Nabi Ibrahim a.s. Dia lebih mulia dan lebih terhormat daripada para nabi sebelumnya

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

…dan dijadikan-Nya kalian orang-orang merdeka

Istilah muluk menurut apa yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Mansur, dari Al-Hakam atau lainnya, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa makna “Dan Dia menjadikan kalian muluk” ialah mempunyai pelayan, istri, dan rumah.

Imam Hakim telah meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis As-Sauri pula, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan “muluk” ialah istri dan pelayan.

Dan Dia telah memberikan kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud ialah umat-umat lain yang ada se­masa mereka. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Maimun ibnu Mahran telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil apabila telah mempunyai istri, pelayan, dan rumah tempat tinggal, maka ia dinamakan malik (raja).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la. telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Abu Hani, ia pernah mendengar Abu Abdur Rahman Al-Hambali mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr ibnul As ketika ditanya oleh seorang lelaki, “Bukankah kita termasuk orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin?” Lalu Abdullah ibnu Amr ibnul As balik bertanya, “Bukankah kamu mempunyai istri yang menjadi teman hidupmu?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Abdullah ibnu Amr bertanya lagi, “Bukankah kamu punya rumah tempat tinggal?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Abdullah ibnu Amr berkata, “Kalau demikian, kamu termasuk orang kaya.” Lelaki itu berkata, “Aku mempunyai pelayan.” Abdullah ibnu Amr menjawab, “Kalau demikian, kamu termasuk orang kaya.”

Al-Hasan Al-Bashri telah mengatakan bahwa raja itu tiada lain hanyalah seseorang yang mempunyai kendaraan, pelayan, dan rumah.

Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir. Kemudian Ibnu Jarir meriwa­yatkan hal yang semisal, dari Al-Hakam, Mujahid, Mansur, dan Sufyan As-Sauri.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Maimun ibnu Mahran, Ibnu Syaizab telah mengatakan bahwa dahulu seorang lelaki dari kalangan Bani Israil apabila memiliki rumah dan pelayan serta untuk bersua dengannya harus melalui penjaga, maka dia adalah seorang raja

Qatadah mengatakan, orang-orang Bani Israil adalah orang-orang yang mula-mula menggunakan pelayan.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia menjadikan kalian orang-orang yang merdeka. (Al Maidah:20), Makna yang dimaksud ialah “bila seseorang dari kalian telah memiliki dirinya, memiliki harta benda, dan mempunyai istri”. Demikian menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Abu Damrah Anas ibnu Iyad. bahwa ia pernah mendengar Zaid ibnu Aslam berkata menafsirkan makna firman-Nya, “Dan Dia menjadikan kalian orang-orang merdeka” (Al Maidah:20). Maka tiada yang dikatakannya kecuali hanya mengetengahkan hadis bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Barang siapa yang mempunyai rumah dan pelayan, maka dia adalah raja.

Hadis ini mursal lagi garib. Menurut Malik, yang dimaksud dengan raja ialah orang yang memiliki rumah, pelayan, dan istri. Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Barang siapa yang berpagi hari dari kalian dalam keadaan diberi kesehatan pada tubuhnya dan aman dijalannya, serta ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia dan seisinya telah diraih olehnya.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah di­berikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

Yakni orang-orang yang alim di masa kalian. Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling mulia di zamannya, lebih mulia daripada orang-orang Yunani, orang-orang Egypt, dan bangsa-bangsa lain dari anak Adam. seperti yang disebutkan oleh ayat lain:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (Taurat), kekuasaan, dan kenabian, dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik, dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Al Jaatsiyah:16)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman,menceritakan perihal Musa a.s. ketika umatnya mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala). Musa menjawab, “Sesung­guhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab, “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kalian yang selain dari Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.” (Al A’raf:138-140)

Yang kami maksudkan ialah “mereka adalah orang-orang yang paling unggul di masanya”, karena sesungguhnya umat ini lebih mulia daripada mereka dan lebih utama di sisi Allah, syariatnya lebih sempurna dan jalannya lebih lurus, nabinya lebih mulia, kerajaannya lebih besar, rezekinya lebih berlimpah, harta dan anaknya lebih banyak, serta kerajaannya lebih luas dan kejayaannya lebih kekal. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia. (Al Baqarah:143)

Kami telah mengetengahkan hadis-hadis yang mutawatir menceritakan perihal keutamaan umat ini dan kemuliaan serta kehormatannya di sisi Allah, yaitu pada tafsir firman-Nya:

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran:110)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Malik serta Sa’id ibnu Jubair, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

Makna yang dimaksud dengan lafaz al- ‘alamina adalah umat Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Seakan-akan mereka bertiga bermaksud bahwa khitab dalam firman-Nya:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah di­berikan-Nya kepada seorang pun.

menyertakan pula umat Muhammad. Sedangkan menurut Jumhur ulama, khitab ini dari Musa a.s., ditujukan kepada umatnya, dan makna yang dimaksud adalah orang-orang alim yang sezaman dengan mereka, seperti keterangan yang telah kami kemukakan di atas.

Menurut pendapat yang lain. makna yang dimaksud dari firman-Nya:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

Yakni apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada mereka, berupa manna dan salwa dan dinaungi oleh awan serta hal-hal yang bertentangan dengan hukum alam lainnya yang pernah diberikan kepada mereka oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ sebagai suatu kekhususan buat mereka.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menceritakan perihal anjuran yang dikeluarkan oleh Musa a.s. kepada Bani Israil untuk berjihad dan memasuki Baitul Muqaddas yang dahulunya adalah milik mereka di masa kakek moyang mereka, yaitu Nabi Ya’aub a.s. Nabi Ya’qub dan anak-anaknya serta semua keluarganya pergi meninggalkannya menuju ke negeri Mesir di masa Nabi Yusuf a.s. Mereka tetap tinggal di Mesir, dan baru keluar meninggalkannya bersama Musa a.s. Tetapi mereka menjumpai di dalam kota Baitul Maqdis suatu kaum dari orang-orang ‘Amaliqah (raksasa) yang gagah perkasa, yang telah merebut kota itu dan menguasainya.

Maka utusan Allah —Nabi Musa a.s.— memerintahkan kaum Bani Israil untuk memasuki Baitul Muqaddas dan memerangi musuh me­reka serta membangkitkan semangat mereka dengan berita gembira akan mendapat pertolongan dan kemenangan atas musuh mereka. Tetapi mereka membangkang dan durhaka serta tidak mau menuruti perintah nabinya. Akhirnya mereka dihukum oleh Allah dengan hukuman terse­sat di padang sahara selama empat puluh tahun, selama itu mereka ti­dak mengetahui arah manakah yang mereka tempuh dan ke manakah tujuan mereka. Hal tersebut sebagai hukuman terhadap mereka karena mereka menyia-nyiakan perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ dan tidak mau menaati­Nya.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Tafsir Ayat:

Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad melawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad.

Maka Musa berkata, اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Ingatlah nikmat Allah atasmu,” dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan memicu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ “ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu,” di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا “Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka,” yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terhadapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi perkaramu, dan kamu mampu menegakkan agamamu.

وَآتَاكُمْ “Dia memberimu” nikmat-nikmat dunia dan agama, مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ “apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melimpahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam berjihad.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Ayat-ayat yang lalu berbicara tentang pengingkaran janji orangorang yahudi dan nasrani yang diikuti dengan peringatan Allah bahwa banyak sekali kenikmatan yang dianugerahkan Allah kepada mereka, tetapi mereka tidak bersyukur dan tidak mematuhi perintah-Nya. Ayat ini menyatakan sekali lagi kenikmatan Allah yang dianugerahkan kepada mereka. Dan ingatlah, wahai nabi Muhammad, dan ingatkan pula orang-orang yang beriman, ketika musa berkata kepada kaumnya untuk menasihati mereka, wahai kaumku, yakni orang-orang yahudi! ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu yang banyak jumlahnya, yakni para nabi leluhur mereka yaitu nabi yakub dan anak cucunya, dan menjadikan kamu sebagai orangorang merdeka, memiliki istri dan pelayan-pelayan layaknya raja setelah kamu tertindas bertahun-tahun lamanya oleh fir’aun. Dan ingatlah pula bahwa Allah telah memberikan nikmat kepada kamu, yaitu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain. Di antara nikmat yang diturunkan Allah kepada bani israil adalah manna dan salwa’, melindungi mereka dengan awan, dan mengutus nabi-nabi yang banyak jumlahnya. Nabi musa selanjutnya berkata kepada kaumnya, wahai kaumku! masuklah ke tanah suci, yaitu tanah palestina yang disucikan dari kemusyrikan karena banyaknya nabi-nabi yang diutus di tanah itu, itulah tanah yang telah ditentukan Allah bagimu dalam ilmu-Nya yang azali untuk memasukinya dan merasakan kedamaian di dalamnya apabila engkau beriman dan taat kepada perintah-Nya, dan janganlah kamu berbalik ke belakang karena takut kepada musuh, nanti kamu menjadi orang yang rugi di dunia dan akhirat karena kamu tidak mempercayai jaminan Allah bahwa tanah itu ditetapkan Allah bagimu untuk memasukinya.


Al-Ma’idah Ayat 20 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Ma’idah Ayat 20, Makna Al-Ma’idah Ayat 20, Terjemahan Tafsir Al-Ma’idah Ayat 20, Al-Ma’idah Ayat 20 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Ma’idah Ayat 20


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Al-Ma’idah Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *