Tafsir Al-Qur’an Surah الرعد / Ar-Ra’d Ayat 16 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{12} Yusuf / يوسف Indeks Al-Qur’an ابراهيم / Ibrahim {14}

Tafsir Al-Qur’an Surat الرعد / Ar-Ra’d (Guruh (Petir)) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 13 Tafsir ayat Ke 16.

Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d Ayat 16

قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ەۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ ەۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۗ قُلِ اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

qul mar rabbus-samāwāti wal-arḍ, qulillāh, qul a fattakhażtum min dụnihī auliyā`a lā yamlikụna li`anfusihim naf’aw wa lā ḍarrā, qul hal yastawil-a’mā wal-baṣīru am hal tastawiẓ-ẓulumātu wan-nụr, am ja’alụ lillāhi syurakā`a khalaqụ kakhalqihī fa tasyābahal-khalqu ‘alaihim, qulillāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwal-wāḥidul-qahhār

QS. Ar-Ra’d [13] :16

Arti / Terjemah Ayat

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik: Siapakah Pencipta langit dan bumi dan yang mengatur keduanya? Katakanlah: Allahlah Pencipta dan yang mengatur keduanya, dan kalian mengakui hal itu. Kemudian, katakanlah kepada mereka disertai dengan hujjah: Apakah kalian menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan kalian, padahal mereka tidak mampu memberikan manfaat kepada diri mereka sendiri atau menghindarkan kemudharatan dari diri mereka, apalagi memberikan manfaat kepada kalian atau menghindarkan mudharat dari kalian, dan kalian meninggalkan penyembahan kepada Dzat yang memiliki manfaat dan mudharat tersebut? Katakanlah, wahai Rasul: Apakah sama, menurut kalian, orang kafir (ia seperti orang buta) dan orang mukmin (ia seperti orang yang dapat melihat)? Atau apakah sama, menurut kalian, kekafiran (ia seperti kegelapan) dan iman (dan ia seperti cahaya)? Ataukah kekasih-kekasih mereka yang mereka jadikan sebagai sekutu-sekutu bagi Allah itu dapat menciptakan sebagaimana ciptaan-Nya, sehingga rancu atas mereka ciptaan para sekutu itu dengan ciptaan Allah, lalu mereka meyakini keberkahan sekutu-sekutu itu untuk disembah? Katakanlah kepada mereka, wahai Rasul: Allahlah Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan, dan Dia-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah. Dia-lah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa yang berhak untuk disembah, bukan berhala-berhala yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia sendiri, karena sesungguhnya mereka mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi. Dia adalah Tuhannya dan yang mengaturnya. Tetapi sekalipun demikian, mereka telah mengambil dari selain-Nya penolong-penolong yang mereka sembah-sembah, padahal sembahan-sembahan mereka itu sama sekali tidak memiliki sedikit manfaat pun —tidak pula sedikit mudarat pun— bagi diri mereka, juga bagi diri para penyembahnya. Dengan kata lain, sembahan-sembahan itu tidak dapat memberikan suatu manfaat pun kepada para penyembahnya, tidak dapat pula menolak suatu mudarat pun dari mereka. Maka apakah sama orang yang menyembah tuhan-tuhan ini selain Allah dengan orang yang menyembah Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, sedangkan dia berada pada jalan petunjuk dari Tuhannya? (Jawabannya tentu saja tidak sama). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang, apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?”

Artinya, apakah orang-orang musyrik itu menjadikan sembahan-sembahan bagi mereka selain Allah yang mereka samakan dan sejajarkan dengan kekuasaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, lalu sembahan-sembahan itu menciptakan hal-hal yang sama dengan ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu sama menurut pandangan mereka, dan mereka tidak dapat membedakannya lagi bahwa padahal makhluk-makhluk itu diciptakan oleh selain-Nya? Jawabannya, tentu saja tidak, yakni tidaklah kenyataannya seperti itu. Karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang menyerupai dan sama dengan Dia, tiada tandingan bagi-Nya, tiada lawan bagi-Nya, tiada pembantu bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri. —Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang sebesar-besarnya—. Sekalipun mereka yang musyrik itu menyembah sembahan-sembahan selain Allah, tetapi dalam hati mereka mengakui bahwa sembahan-sembahan itu adalah makhluk dan hamba Allah. Hal ini terbukti melalui talbiyah mereka yang mengatakan, “Labbaika, tiada sekutu bagi­Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau menguasainya, sedangkan dia tidak berkuasa,” juga seperti yang disebutkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ dalam firman-Nya menceritakan perihal mereka:

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekat­kan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az Zumar:3)

Maka Allah membantah dugaan mereka itu, dan Allah menyatakan bahwa tiada seorang pun yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya, yaitu melalui firman-Nya dalam ayat lain:

Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu. (Saba’: 23)

Dan berapa banyaknya malaikat di langit. (An Najm:26), hingga akhir ayat.

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam:93-95)

Apabila semuanya adalah hamba-hamba Allah, maka sebagian dari mereka tidak boleh menyembah sebagian yang lain tanpa dalil dan tanpa bukti. Apa yang mereka lakukan itu tiada lain hanyalah berdasarkan pendapat, buat-buatan, dan ciptaan mereka sendiri. Kemudian Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya dari awal sampai yang terakhir untuk melarang mereka melakukan penyembahan kepada selain Allah. Akan tetapi, mereka didustakan dan ditentang. Maka mereka yang menentang para rasul itu benar-benar berhak mendapat azab Allah.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Maksudnya, ‘Katakanlah kepada orang-orang yang me-nyekutukan berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan tandingan lainnya dengan Allah, yang mana mereka mencintai sesembahan-sesembahan itu layaknya kecintaan mereka kepada Allah, mem-persembahkan bermacam-macam bentuk qurbah (untuk mendekat-kan diri kepada Allah) dan ibadah baginya. Apakah akal pikiran kalian telah tumpul sehingga mendaulat selain Allah sebagai wali (penolong) yang mereka agungkan dengan ibadah, padahal mereka itu tidak patut untuk diperlakukan demikian? Mereka (sesembahan selain Allah) itu لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا “mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri,” dan kalian mengenyampingkan pertolongan dari Dzat yang sempurna Nama-nama dan Sifat-sifatNya, Pemilik semua makhluk hidup dan benda yang mati. Di TanganNya-lah hak penciptaan, pengaturan, pemberian manfaat dan pengarahan bahaya. Maka tidak sama, ibadah kepada Allah semata dengan ibadah kepada tuhan yang disekutukan dengan Allah, sebagaimana tidak sama orang buta dengan orang yang bisa melihat, juga sebagai-mana tidak تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ “sama gelap gulita dengan terang bende-rang.” Apabila mereka mempunyai unsur keragu-raguan serta ke-tidakjelasan sehingga mengangkat beberapa sekutu bagiNya, dengan beranggapan bahwa sekutu-sekutu itu mampu menciptakan seperti penciptaan Allah, dan sanggup berbuat apa saja seperti yang di-perbuat Allah, maka singkirkanlah kesimpangsiuran dan kerancuan ini dari mereka dengan bukti yang menunjukkan ketauhidan Allah dengan keesaanNya dan katakanlah kepada mereka, “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” Sungguh merupakan perkara mustahil, sesuatu bisa mencipta-kan dirinya sendiri. Begitu pula, termasuk hal yang tidak mungkin terjadi, sesuatu muncul tanpa pencipta. Maka akan teridentifikasilah bahwa makhluk itu memiliki Pencipta yang menciptakan, tidak ada sekutu bagiNya dalam penciptaan. Karena Dia-lah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Tidak ada keesaan dan keperkasaan kecuali bagi Allah semata. Seluruh makhluk, masing-masing saling menundukkan makhluk lainnya dengan kegagahannya. Kemudian di atas sang penakluk tadi terdapat Dzat Yang Maha Penakluk yang lebih kuat darinya, sampai berakhir kepada keperkasaan Dzat Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Keperkasaan dan keesaan, dua sifat yang saling berkorelasi yang mesti dimiliki oleh Allah saja, maka jelaslah sebuah keniscayaan, ditinjau dari sudut nalar akal bahwa segala sesuatu yang diseru selain Allah, tidak mempunyai sedikit pun andil dalam penciptaan makhluk-makhluk. Dengan berdasarkan itu, maka ibadah kepadanya menjadi sebuah kebatilan.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Ayat-ayat yang lalu telah membuktikan betapa Allah mahakuasa, maha mengetahui, dan mahaperkasa. Melalui ayat berikut Allah lalu meminta nabi Muhammad mengajukan pertanyaan kepada orangorang kafir. Katakanlah, siapakah tuhan pemilik langit dan bumi’ katakanlah, wahai nabi Muhammad, Allah. Katakanlah lagi kepada mereka, pantaskah kamu, wahai penduduk mekah, mengambil berhala sebagai pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri’ katakanlah, wahai nabi, samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat’ atau samakah keadaan yang gelap gulita dengan keadaan yang terang benderang’ apakah mereka, yakni orang yang menyekutukan Allah, menjadikan pula sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka’ katakanlah, Allah adalah pencipta segala sesuatu, tidak akan pernah ada yang wujud kecuali dia ciptakan, dan dia tuhan yang maha esa, mahaperkasa. Ayat berikut merinci kekuasaan Allah yang tidak dimiliki oleh berhala sesembahan orang-orang musyrik mekah. Allah telah menurunkan dalam bentuk curahan air hujan dari langit, maka mengalirlah ia, yakni air hujan yang dicurahkan itu, di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat yang beraneka ragam, ada pula buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang mana yang benar dan mana yang batil. Adapun buih, lambang dari kebatilan, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, dan manfaat itu akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang mau berpikir.


Ar-Ra’d Ayat 16 Arab-Latin, Terjemah Arti Ar-Ra’d Ayat 16, Makna Ar-Ra’d Ayat 16, Terjemahan Tafsir Ar-Ra’d Ayat 16, Ar-Ra’d Ayat 16 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Ar-Ra’d Ayat 16


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Ar-Ra’d Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43

Leave a Reply

Your email address will not be published.