Tafsir Al-Qur’an Surah الدخان / Ad-Dukhan Ayat 10 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{43} Az-Zukhruf / الزخرف Indeks Al-Qur’an الجاثية / Al-Jathiyah {45}

Tafsir Al-Qur’an Surat الدخان / Ad-Dukhan (Kabut) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 44 Tafsir ayat Ke 10.

Al-Qur’an Surah Ad-Dukhan Ayat 10

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى السَّمَاۤءُ بِدُخَانٍ مُّبِيْنٍ

fartaqib yauma ta`tis-samā`u bidukhānim mubīn

QS. Ad-Dukhan [44] :10

Arti / Terjemah Ayat

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

(10,11,12) Wahai Muhammad, tunggulah bersama orang-orang yang musyrik itu datangnya hari ketika langit akan mendatangkan asap yang nyata jelas menyelimuti manusia. Dikatakan kepada mereka, “Ini adalah siksa yang pedih dan menyakitkan.” Kemudian mereka berkata seraya meminta supaya siksaan itu disingkapkan dari mereka. “Wahai Tuhan, singkapkanlah kami dari siksaan ini. Jika Engkau menyingkapkannya, kami akan beriman kepada-Mu.”

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman, mengancam mereka:

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. (Ad-Dukhan: 10)

Sulaiman ibnu Mahran alias Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abud Duha alias Muslim ibnu Sabiti, dari masruq yang mengatakan bahwa kami memasuki masjid Kufah yang terletak di dekat pintu gerbang masuk ke Kindah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang sedang menceritakan kepada teman-temannya tentang makna firman-Nya: hari ketika langit membawa kabut yang nyata. (Ad-Dukhan: 10) Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan dukhan (kabut) itu? Kabut itu akan datang menjelang hari kiamat, lalu menimpa pendengaran dan penglihatan orang-orang munafik, sedangkan orang-orang mukmin hanya mengalami hal yang seperti pilek saja akibat kabut tersebut. Masruq melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menemui Ibnu Mas’ud r.a. dan menceritakan kepadanya perkataan lelaki itu. Saat itu Ibnu Mas’ud dalam keadaan berbaring, lalu ia terkejut dan duduk, kemudian berkata bahwa sesungguhnya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ telah befirman kepada nabi kalian: Katakanlah (hai Muhammad), “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (Shad: 86) Sesungguhnya termasuk pengetahuan itu ialah bila seseorang mengatakan terhadap apa yang tidak diketahuinya, bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Aku akan menceritakan hal tersebut kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang Quraisy itu ketika menghambat agama Islam dan durhaka kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berdoa untuk memberi pelajaran kepada mereka agar mereka ditimpa paceklik seperti paceklik yang terjadi di masa Nabi Yusuf. Maka mereka pun tertimpa kepayahan dan kelaparan sehingga terpaksa mereka memakan tulang belulang dan bangkai. Dan mereka menengadahkan pandangannya ke langit, maka tiada yang mereka lihat kecuali hanya kabut.

Menurut riwayat lain, seseorang dari mereka bila melihatkan pandangannya ke langit (mengharapkan hujan), maka dia melihat antara dia dan langit sesuatu yang seperti kabut karena kepayahan yang dialaminya akibat kelaparan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman: Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (Ad-Dukhan: 10-11) Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di datangi dan dikatakan kepadanya, “Ya Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah buat Mudar, karena sesungguhnya mereka telah binasa (akibat paceklik ini).” Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memohon hujan untuk mereka, dan mereka pun diberi hujan, lalu turunlah firman-Nya: Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit, sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (Ad-Dukhan: 15)

Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan bahwa lalu azab itu dilenyapkan dari mereka; dan ketika keadaannya sudah pulih menjadi makmur, maka mereka kembali kepada keadaannya yang semula, yaitu mengingkari kebenaran. Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menurunkan firman-Nya: (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghancurkan mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan (Ad-Dukhan: 16)

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa hal ini terjadi dalam Perang Badar. Selanjutnya Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan bahwa telah berlalu lima peristiwa, yaitu Dukhan, Rum, Al-Qamar, Al-Batsyah, dan Al-Lizam.

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain.

Iman Ahmad meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, dan hadis ini pada Imam Turmuzi dan Imam Nasai tertera pada kitab tafsir masing-masing. Dan Jarir serta Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula melalui berbagai jalur dari Al-A’masy dengan sanad yang semisal.

Ibnu Mas’ud r.a. dalam tafsirnya sehubungan dengan ayat ini yang mengatakan bahwa peristiwa Dukhan telah berlalu, sependapat dengan pendapat yang dikemukakan segolongan ulama Salaf, seperti Mujahid, Abul Aliyah, Ibrahim An-Nakha’i, Ad-Dahhak dan Atiyyah Al-Aufi pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Musafir, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Hassan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman Al-A’raj sehubungan dengan makna firman-Nya. Hari ketika langit membawa kabut yang nyata. (Ad-Dukhan: 10) Bahwa peristiwa ini terjadi pada hari jatuhnya kota Mekah.

Pendapat ini gharib sekali, bahkan munkar.

Ulama lainnya mengatakan bahwa peristiwa Dukhan masih belum terjadi, bahkan Dukhan merupakan salah satu pertanda hari kiamat, sebagai mana yang disebutkan terdahulu melalui hadis Abu Sarihah alias Huzaifah ibnul Usaid Al-Gifari r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ muncul menuju ke arah kami dari ‘Arafah, sedangkan kami saat itu sedang membicarakan tentang hari kiamat. Maka beliau bersabda:

Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda (yang mengawalinya), yaitu terbitnya matahari dari arah barat, Dukhan (kabut), Dabbah (binatang melata), keluarnya ya-juj dan Ma-juj, munculnya Isa putra Maryam dan Dajjal: terjadinya tiga kali gempa hebat, satu kali gempa di timur, satu kali gempa di Barat, dan satu kali lagi gempa di Jazirah Arabia; dan munculnya api dari daerah pedalaman ‘Adn yang menggiring manusia —atau menghimpunkan manusia— api itu ikut menginap bersama mereka di tempat mereka menginap, dan ikut istirahat bersama mereka di tempat mereka istirahat.

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Muslim secara tunggal di dalam kitab sahihnya. Dan di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkata kepada Ibnu Sayyad:

“Sesungguhnya aku sekarang menyembunyikan sesuatu terhadapmu” Ibnu Sayyad menjawab, “Itu adalah Ad-Dukh,” (Belum lagi Ibnu Sayyad merampungkan ucapannya) Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memotongnya, “Terhinalah kamu, kamu tidak akan dapat melampaui takdirmu (kedudukanmu). Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyembunyikan terhadapnya firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata (Ad-Dukhan: 10)

Di dalam hadis ini terkandung pengertian yang menunjukkan bahwa peristiwa yang dimaksud masih dinanti-nantikan kedatangannya. Ibnu Sayyad mengetahui peristiwa itu melalui cara tenung dan mengatakannya melalui lisan Jin; Jadi jinlah yang mengajarkan kepadanya kalimat itu, karena itulah Ibnu Sayyad mengatakannya bahwa peristiwa tersebut adalah Ad-Dukh, yakni Dukhan. Dan pada saat itu juga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ segera mengetahui cara yang dipakai oleh Ibnu Sayyad, bahwa ia memakai cara setan. Maka beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ segera memotongnya melalui sabdanya: Terhinalah engkau, engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan:

telah menceritakan kepadaku Isam ibnu Rawwad ibnul Jarrah, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Abu Sa’id As-Sauri, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Mu’tamir, dari Rab’i ibnu Hirasy yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Huzaifah ibnul Yaman r.a. mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda: Sesungguhnya mula-mula pertanda (kiamat) ialah Dajjal, turunnya Isa Putra Maryam a.s., api yang keluar dari pedalaman ‘Adn, yang tampak jelas; api itu menggiring manusia ke tempat Mahsyar dan ikut istirahat bersama mereka di tempat mereka beristirahat, dan munculnya Dukhan (kabut) Huzaifah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan Dukhan itu?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab dengan membacakan firman-Nya: Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih (Ad-Dukhan: 10-11) Kabut tersebut memenuhi semua kawasan yang ada di belahan timur dan belahan barat; tinggal selama empat puluh hari empat puluh malam. Adapun orang mukmin hanya mengalami seperti terserang pilek akibat pengaruh kabut itu. Sedangkan orang kafir mengalami seperti orang yang mabuk; kabut itu keluar dari lubang hidungnya, kedua telinganya, dan dubur (liang anus) nya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sekiranya hadis ini sahih, tentulah menjadi dalil yang menyelesaikan perbedaan pendapat dan sesungguhnya ia tidak mau menyaksikan kesahihannya karena Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani telah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Rawwad mengenai hadis ini, “Apakah engkau mendengarnya dari Sufyan” Ibnu Rawwad menjawab, “Tidak.” Muhammad ibnu Khalaf bertanya lagi, “Apakah engkau membacakan hadis itu terhadapnya” ia menjawab, “Tidak.” aku bertanya lagi kepadanya “Apakah dibacakan kepadanya hadis ini, sedangkan kamu menghadirinya, lalu ia mengakui hadis itu? Ia menjawab, “Tidak.” aku bertanya, “Lalu dari manakah engkau mendapatkan hadis ini?” Ibnu Rawwad menjawab, “Suatu kaum datang kepadaku, lalu mereka mengemukakan hadis ini kepadaku, dan mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka mendengar hadis ini dariku. Kemudian mereka membacakannya kepadaku, setelah itu mereka pergi dengan membaca hadis ini, dan mereka mengatakan bahwa mereka menceritakannya dariku.” Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani, atau hal yang semakna dengan kisah ini.

Ibnu Jarir dalam analisisnya terhadap hadis ini cukup jeli dan baik, karena sesungguhnya dengan sanad seperti ini, berarti hadis ini adalah hadis maudu’ (buatan). Dan Ibnu Jarir banyak menyerang dan mengecam konteks-konteks yang telah dikemukakan olehnya (Ibnu Rawwad) di berbagai tempat sehubungan dengan tafsir ini: di dalamnya terdapat banyak hal yang mungkar (diingkari), terlebih lagi dalam tafsir surat Bani Israil dan riwayat mengenai Masjidil Aqsa. Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Auf, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur’ah dari Syuraih ibnu ubaid, dari Abu Malik Al-Asy’ari r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Sesungguhnya Tuhan kalian telah memperingatkan tiga perkara kepada kalian, yaitu Dukhan (kabut) yang mengenai orang mukmin seperti penyakit pilek dan mengenai orang kafir yang menjadikannya kembung hingga kabut itu keluar dari semua lubang tubuhnya. Kedua ialah munculnya hewan dan yang ketiga ialah munculnya Dajjal.

Diriwayatkan juga oleh At Thabrani dari Hasyim bin Yazid, dari Muhammad bin Ismail bin Ayyas, dengan sanad yang sama, dan Sanad ini Jayyid.

Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, menceritakan kepada kami Shafwan, menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Khalil dari Al-Hasan, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda: Dukhan (kabut) mengguncangkan manusia, tetapi bagi orang mukmim hanya mengalami hal seperti penyakit pilek, sedangkan orang kafir menjadi kembung karenanya sehingga kabut keluar dari semua lubang yang ada pada tubuhnya.

Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan hadis ini dari Qatadah, dari Al-Hasan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, secara mauquf. Sa’id ibnu Auf meriwayatkan hal yang semisal dari Al-Hasan.

Ibnu Abu Hatim. mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Haris dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa pertanda (hari kiamat) berupa Dukhan (kabut) masih belum terjadi. Kabut itu mengenai orang mukmin bagaikan penyakit pilek, tetapi orang kafir menjadi kembung karenaya hingga menembusnya.

Ibnu Jarir meriwayatkan melalui Al-Walid ibnu Jami’, dari Abdul Malik ibnul Mugirah, Abdur Rahman ibnus Sulaimani, dari Ibnu Umar r.a. yang mengatakan bahwa (kelak sebelum kiamat) muncul Dukhan (kabut) dan melanda orang mukmin bagaikan penyakit pilek, dan kabut itu memasuki semua lubang tubuh orang kafir dan orang munafik sehingga seperti kepala yang dipanggang di atas bara yang panas.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’kub telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Ibnu Juraij, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia pergi mengunjungi Ibnu Abbas r.a. Maka Ibnu Abbas berkata, “Tadi malam aku tidak dapat tidur sampai pagi hari.” Aku bertanya, “Mengapa?” Ibnu Abbas menjawab, “Telah muncul bintang yang berekor, maka aku merasa khawatir bila itu pertanda munculnya Dukhan (kabut), hingga aku tidak dapat tidur semalaman sampai pagi hari.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Sufyan, dari Abdullah ibnu Abu Yazid, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Ibnu Abbas, lalu disebutkan hal yang semisal. Sanad riwayat ini memang sahih sampai kepada Ibnu Abbas r.a. ulama umat ini dan penerjemah Al-Qur’an.

Hal yang sama telah dikatakan oleh orang-orang yang sependapat dengan Ibnu Abbas dari kalangan sahabat dan tabiin, juga hadis-hadis marfu’ dalam kitab-kitab sahih dan hasan serta hadis lainnya yang diketengahkan oleh mereka. Di dalamnya terkandung dalil yang jelas dan dapat diterima, menyatakan bahwa Dukhan merupakan salah satu pertanda yang masih ditunggu-tunggu kedatangannya. Selain itu pengertian lahiriah ayat sependapat dengan ini, karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ telah berfirman:

Maka tunggulah ketika langit membawa kabut yang nyata. (Ad-Dukhan: 10)

Yakni kabut yang nyata lagi jelas dapat dilihat oleh setiap orang. Tetapi menurut tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud r.a, sesungguhnya kabut itu hanyalah berasal dari ilusi, yang terlihat oleh mereka akibat kelaparan dan kepayahan yang menimpa mereka. Demikian pula apa yang disebutkan dalam firman berikutnya:

yang meliputi manusia. (Ad-Dukhan: 11)

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Tafsir Ayat:

فَارْتَقِبْ “Maka tunggulah,” yakni, nantikanlah azab yang akan ditimpakan terhadap mereka karena waktunya telah dekat, يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ. يَغْشَى النَّاسَ “hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia,” yakni, diliputi oleh kabut itu, di mana dikatakan kepada mereka, هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ “Inilah azab yang pedih.” Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari kabut ini.

Ada yang berpendapat bahwa kabut tersebut ialah yang meliputi manusia ketika neraka mendekati orang-orang berdosa pada Hari Kiamat, Allah ﷻ mengancamkan siksa Hari Kiamat pada mereka dan memerintahkan nabiNya untuk menanti hari itu bersama mereka. Penafsiran ini dikuatkan bahwa cara tersebut adalah cara al-Qur`an dalam memberi ancaman kepada orang-orang kafir serta menakut-nakuti mereka akan azab pada hari itu, serta sebagai pelipur lara untuk para rasul dan orang-orang yang beriman dengan menanti orang-orang yang menyakiti mereka. Juga dikuatkan dengan Firman Allah ﷻ dalam ayat berikut, أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ “Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan.” Hal ini dikatakan pada Hari Kiamat untuk orang-orang kafir ketika mereka meminta untuk dikembalikan ke dunia, dijawab, “Waktu kembali sudah lenyap.”

Yang lain menafsirkan, maksudnya adalah, kondisi yang menimpa orang-orang kafir Quraisy ketika mereka enggan beriman dan bersikap tinggi hati terhadap kebenaran hingga Nabi ﷻ mendoakan mereka,

اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَيْهِمْ بِسِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ.

“Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan (menimpakan mereka) tahun-tahun paceklik sebagaimana tahun-tahun paceklik Nabi Yusuf.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4774, 4821, dan Muslim, no. 2797)

Kemudian Allah ﷻ mengirimkan kelaparan hebat hingga orang-orang kafir Quraisy makan bangkai dan tulang, lalu mereka melihat semacam kabut di antara langit dan bumi padahal tidak ada, hal itu dikarenakan hebatnya rasa lapar.

Berdasarkan penafsiran di atas, maka maksud Firman Allah ﷻ, “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,” adalah berkaitan dengan penglihatan serta apa yang mereka saksi-kan, padahal bukan kabut sesungguhnya. Mereka (orang-orang kafir Quraisy) tetap berada dalam kondisi seperti itu hingga mereka meminta belas kasih Rasulullah ﷺ dan memintanya agar berdoa kepada Allah ﷻ untuk melenyapkan derita mereka. Rasulullah ﷺ berdoa kepada Rabbnya dan kesengsaraan dilenyapkan.

Atas penafsiran ini, maka maksud Firman Allah ﷻ, إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ “Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar),” adalah pemberitahuan bahwa Allah ﷻ akan melenyapkannya dari mereka dan ancaman bagi mereka bila kembali lagi pada kesombongan dan pendustaan, serta pemberitahuan akan terjadinya hal tersebut dan benar-benar terjadi. Dan Allah ﷻ kelak akan menyiksa mereka dengan siksaan yang besar. Menurut para ahli tafsir yang dimaksud adalah peristiwa Perang Badar. Dalam pendapat ini terdapat pandangan yang jelas.

Yang lain menafsirkan, hal itu merupakan salah satu tanda Kiamat. Di akhir zaman akan ada kabut yang mencabut nyawa manusia, orang-orang yang beriman akan terkena layaknya kabut.

Pendapat yang benar adalah pendapat pertama. (Ibnu Katsir berkata, “Ibnu Mas’ud sepakat dengan penafsiran –bahwa kabut sudah terjadi– ini sesuai dengan pendapat segolongan salaf seperti Mujahid, Abul Aliyah, Ibrahim an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Athiyah al-‘Aufi dan dipilih oleh Ibnu Jarir.” (Tafsir Ibni Katsir, cetakan asy-Sya’ab, 7/233).)

Dalam ayat ini terdapat kemungkinan bahwa yang dimaksud oleh Firman Allah ﷻ,

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ * يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ * رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ * أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ * ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih, (mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, lenyapkanlah dari kami azab itu, sesungguhnya kami akan beriman.’ Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila’,” bahwa semua ini akan terjadi pada Hari Kiamat dan Firman Allah ﷻ,

إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ * يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ

“Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan,” akan menimpa orang-orang kafir Quraisy sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Dan bila ayat-ayat di atas diturunkan dengan kedua makna tersebut, maka tidak terdapat adanya sesuatu yang menghalanginya, justru kata-kata dalam ayat-ayat di atas sesuai dengan kedua makna tersebut. Dan inilah pendapat yang kuat menurut saya. Wallahu a’lam.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

10-11. Maka oleh sebab itu, tunggulah wahai nabi Muhammad, atau siapa pun, hari ketika langit membawa kabut, yaitu debu yang beterbangan dari tanah akibat kekeringan yang berkepanjangan yang tampak jelas bagi mereka, yang meliputi manusia sehingga mereka tidak dapat melihat apa pun di sekitar mereka dan melindungi diri mereka. Inilah azab yang pedih bagi orang-orang yang melakukan perbuatan dosa


Ad-Dukhan Ayat 10 Arab-Latin, Terjemah Arti Ad-Dukhan Ayat 10, Makna Ad-Dukhan Ayat 10, Terjemahan Tafsir Ad-Dukhan Ayat 10, Ad-Dukhan Ayat 10 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Ad-Dukhan Ayat 10


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Ad-Dukhan Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59

Leave a Reply

Your email address will not be published.