Tafsir Al-Qur’an Surah الدخان / Ad-Dukhan Ayat 29 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{43} Az-Zukhruf / الزخرف Indeks Al-Qur’an الجاثية / Al-Jathiyah {45}

Tafsir Al-Qur’an Surat الدخان / Ad-Dukhan (Kabut) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 44 Tafsir ayat Ke 29.

Al-Qur’an Surah Ad-Dukhan Ayat 29

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُۗ وَمَا كَانُوْا مُنْظَرِيْنَ

fa mā bakat ‘alaihimus-samā`u wal-arḍ, wa mā kānụ munẓarīn

QS. Ad-Dukhan [44] :29

Arti / Terjemah Ayat

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Tidaklah langit dan bumi menangis karena sedih akan Fir’aun dan kaumnya. Tidaklah mereka akan ditangguhkan untuk ditimpakan hukuman.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka. (Ad-Dukhan: 29)

Yakni mereka tidak mempunyai amal saleh yang dinaikkan ke pintu-pintu langit, karena itu langit menangisi kehilangan mereka. Dan mereka tidak mempunyai satu petak tanah pun di bumi ini yang padanya dilakukan pemyembahan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ yang karenanya tanah tersebut menangisi kehilangan mereka. Karena itulah maka mereka berhak untuk tidak mendapat masa tangguh karena kekafiran mereka, kejahatan mereka, dan sikap mereka yang angkuh lagi pengingkar.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan di dalam kitab musnadnya:

telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Makki ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan keapdaku Yazid Ar-Raqqasyi, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik r.a. dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang telah bersabda: Tiada seorang hamba pun melainkan mempunyai dua buah pintu di langit; sebuah pintu untuk jalan turun rezekinya, dan sebuah pintu lagi untuk masuk amal dan ucapannya. Apabila hamba yang bersangkutan meninggal dunia, maka kedua pintu itu merasa kehilangan dia dan menangisi kepergiannya. Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membaca ayat ini: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka. (Ad-Dukhan: 29)

Menurut suatu riwayat, mereka tidak pernah mengerjakan suatu amal saleh pun di muka bumi ini yang menyebabkan bumi menangisi kepergian mereka. Dan tiada ucapan dan amal perbuatan mereka yang dinaikkan ke langit, yaitu ucapan yang baik dan amal yang saleh, yang karenanya langit merasa kehilangan mereka, lalu menangisi kepergian mereka. Imam Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal ini melalui Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Talhah, telah menceritakan kepadaku Isa ibnu Yunus, dari Safwan ibnu Amr, dari Syuraih ibnu Ubaid Al-Hadrami yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw, pernah bersabda: Sesungguhnya Islam itu asing permulaannya dan kelak akan kembali asing seperti semula. Ingatlah, tiada keterasingan bagi orang mukmin. Tidak sekali-kali seorang mukmin meninggal dunia di pengasingan yang padanya tiada seorang pun yang menangisi kepergiannya, melainkan langit dan bumi menangisi kepergiannya. Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membaca firman-Nya: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka. (Ad-Dukhan: 29) Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menangisi kematian orang kafir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan,- telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad (Yakni Az Zubairi), telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Saleh, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Abbad ibnu Abdullah yang telah menceritakan, bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada sahabat Ali r.a, “Apakah langit dan bumi menangisi seseorang?” maka Ali r.a. menjawab, “Sesungguhnya engkau menanyakan kepadaku sesuatu hal yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun sebelummu. Sesungguhnya tiada seorang hamba pun melainkan mempunyai tempat salat di bumi dan tempat naik amalnya di langit. Dan sesungguhnya Fir’aun dan kaumnya tidak mempunyai suatu amal saleh pun di bumi ini dan tidak pula mereka memiliki suatu amal pun yang dinaikkan ke langit.” Kemudian Ali r.a. membaca firman-Nya: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh. (Ad-Dukhhan: 29)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Talq ibnu Ganam, dari Zaidah, dari Mansur, dari Minhal, dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas r.a, lalu bertanya, “Hai Abul Abbas, bagaimanakah pendapatmu tentang firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: ‘Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.’ (Al-Dukhan: 29) Maka apakah langit dan bumi itu dapat menangisi kematian seseorang?” Ibnu Abbas menjawab, “Ya, sesungguhnya tiada seorang makhluk pun melainkan mempunyai pintu di langit yang darinya turun rezekinya dan dengan melaluinya amal perbuatannya dinaikkan. Maka apabila seorang mukmin meninggal dunia pintunya yang di langit tempat naik amalnya dan tempat turun rezekinya ditutup, lalu ia merasa kehilangan dia dan menangisinya. Dan tempat dia biasa mengerjakan salatnya di bumi dan tempat ia biasa berzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ bila dia meninggal, merasa kehilangan dia dan menangisinya. Dan sesungguhnya kaum Fir’aun itu tidak mempunyai jekak-jejak yang baik di bumi, tidak pula memiliki kebaikan yang dinaikkan ke langit kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ Maka langit dan bumi tidak menangisi kematian mereka.”

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. hal yang semisal dengan atsar di atas.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Yahya Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas r.a. yang menceritakan bahwa menurut suatu pendapat, bumi menangisi kematian seorang mukmin selama empat puluh hari. Mujahid mengatakan, bahwa lalu ia bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apakah bumi dapat menangis?” Ibnu Abbas menjawab, “Apakah engkau merasa heran?” mengapa bumi tidak menangisi kematian seseorang yang telah meramaikannya dengan rukuk, dan sujud padanya? dan mengapa langit tidak menangisi kematian seseorang hamba yang takbir dan tasbihnya berkumandang seperti suara lebah?”

Qatadah mengatakan bahwa kematian Fir’aun dan kaumnya dinilai sangat hina untuk ditangisi oleh langit dan bumi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ismail telah menceritakan kepada kami Al-Mustawrid ibnu Sabiq dari Ubaidul Maktab dari Ibrahim yang mengatakan bahwa langit sejak dunia ada belum pernah menangis kecuali karena kematian dua orang. Aku bertanya kepada Ubaid, “Bukankah langit dan bumi menangisi kematian orang mukmin?” Ubaid menjawab, “Yang menangisinya adalah tempat naik amalnya saja”. Ubaid bertanya, “Tahukah kamu, apakah pertanda langit menangis?” Aku menjawab “Tidak tahu”. Ubaid mengatakan, “Pertanda langit menangis ialah kelihatan memerah bagaikan bunga mawar seperti kilapan minyak. Sesungguhnya ketika Nabi Yahya ibnu Zakaria dibunuh, langit tampak memerah dan meneteskan darah. Dan sesungguhnya ketika Al-Husain ibnu Ali r.a. dibunuh langit tampak memerah.

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan Muhammad ibnu Amr Zanij, telah menceritakan kepada kami Jarir, Dari Yazid ibnu Abu Ziad yang mengatakan bahwa ketika Al-Husain ibnu Ali r.a. dibunuh, langit kelihatan memerah selama empat bulan. Yazid mengatakan bahwa menangisnya langit itu bila ia tampak memerah.

Hal yang sama telah dikatakan oleh As-Sadiyyul Kabir. Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa menangisnya langit itu bila semua ujungnya tampak memerah.

Mereka (kaum Syi’ah) menyebutkan pula sehubungan dengan peristiwa terbunuhnya Husain ibnu Ali r.a, bahwa tiada suatu batu pun yang dibalikkan pada hari terbunuhnya Al-Husain, melainkan ditemukan di bawahnya darah berserakan. Dan di hari itu matahari mengalami gerhana dan ufuk langit kelihatan memerah serta batu-batu banyak yang berjatuhan.

Semua pendapat tentang ini masih diragukan dan perlu diteliti lagi kebenarannya, yang jelas semua riwayat di atas merupakan buatan golongan Syi’ah dan kedustaan mereka untuk membesar-besarkan peristiwa itu.

Memang benar peristiwa terbunuhnya Al-Husain ibnu Ali termasuk peristiwa yang besar, tetapi tidaklah terjadi apa yang dibuat-buat oleh mereka ini. Padahal telah terjadi peristiwa yang lebih besar dari terbunuhnya Al-Husain ibnu Ali r.a, tetapi tidak terjadi sesuatu pun yang disebutkan oleh mereka itu. Karena sesungguhnya ayah Al-Husain sendiri (yaitu Ali ibnu Abu Talib r.a.) yang jelas lebih utama daripadanya menurut kesepakatan semuanya, tetapi ternyata tiada sesuatu pun dari hal itu yang terjadi. Dan ketika Usman ibnu Affan r.a. terbunuh secara aniaya dalam kepungan, ternyata tidak terjadi pula sesuatu dari hal tersebut. Begitu pula ketika Umar ibnul Khattab r.a. terbunuh di mihrab dalam salat subuhnya, yang kaum muslim belum pernah tertimpa musibah apa pun sebelum perisitwa tersebut, tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu pun dari hal tersebut.

Berikut ini Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ penghulu manusia di dunia dan akhirat, di hari kewafatannya tiada sesuatu pun dari hal itu yang terjadi. Dan di hari kewafatan putranya (yaitu Sayyid Ibrahim) matahari mengalami gerhana. Maka orang-orang mengatakan, bahwa matahari gerhana karena kematian Ibrahim. Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengajak mereka Salat gerhana dan berkhotbah kepada mereka, antara lain beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjelaskan bahwa sesungguhnya matahari dan rembulan tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kelahirannya.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Tafsir Ayat:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأرْضُ “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka,” yakni, ketika Allah ﷻ melenyapkan dan membinasakan mereka, langit dan bumi tidak menangisi mereka, maksudnya tidak bersedih atas mereka dan tidak berduka karena berpisah dengan mereka. Bahkan semuanya hingga langit dan bumi bergembira karena kebinasaan dan lenyapnya Fir’aun dan kaumnya, sebab mereka tidak meninggalkan jejak apa pun selain apa yang membuat kelam wajah mereka dan mengharuskan mereka mendapatkan laknat serta kemurkaan seluruh alam, bahkan seketika itu juga mereka diratakan dengan tanah.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Maka langit dan bumi yang menyaksikan azab dan balasan yang di timpakan oleh Allah kepada fir’aun dan pengikut-pengikutnya tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak di beri penangguhan waktu, yakni kesempatan untuk memperbaiki diri mereka. 30-31. Dan dengan penenggelaman fir’aun dan bala tentaranya sesungguhnya telah kami selamatkan bani israil dengan kekuasaan kami dari siksaan yang menghinakan, dari siksaan fir’aun dan bala tentaranya. Sesungguhnya dia itu orang yang sombong terhadap Allah dan manusia, serta termasuk orang-orang yang melampaui batas, yaitu berlebihan dalam melakukan kejahatan dan perbuatan dosa.


Ad-Dukhan Ayat 29 Arab-Latin, Terjemah Arti Ad-Dukhan Ayat 29, Makna Ad-Dukhan Ayat 29, Terjemahan Tafsir Ad-Dukhan Ayat 29, Ad-Dukhan Ayat 29 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Ad-Dukhan Ayat 29


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Ad-Dukhan Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59

Leave a Reply

Your email address will not be published.