Tafsir Al-Qur’an Surah الذاريات / Az-Zariyat Ayat 1 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{50} Qaf / ق Indeks Al-Qur’an الطور / At-Tur {52}

Tafsir Al-Qur’an Surat الذاريات / Az-Zariyat (Angin Yang Menerbangkan) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 51 Tafsir ayat Ke 1.

Al-Qur’an Surah Az-Zariyat Ayat 1

وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ

waż-żāriyāti żarwā

QS. Az-Zariyat [51] :1

Arti / Terjemah Ayat

Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Allah bersumpah demi angin yang menerbangkan debu. Dan demi awan yang membawa beban berat berisi air hujan. Demi kapal laut yang berlayar di atas air yang mengalir dengan mudah. Dan demi malaikat yang membagi-bagikan urusan Allah kepada makhluk-Nya. Wahai manusia, sesungguhnya apa yang dijanjikan berupa hari penghisaban dan hari pembalasan, pasti akan terjadi dan sesungguhnya penghisaban dan pemberian pahala atas amalan adalah benar dan bukan sebuah kemustahilan.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Syu’bah ibnul Hajjaj telah meriwayatkan dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur’urah bahwa ia pernah mendengar Ali r.a. Syu’bah juga telah meriwayatkan pula dari Al-Qasim ibnu Abu Buzzah, dari Abut Tufail bahwa ia pernah mendengar Ali r.a. dan telah diriwayatkan pula melalui berbagai alur dari Amirul Mu’minin Ali ibnu Abu Talib r.a. Disebutkan bahwa ia menaiki mimbar di Kufah lalu berkata, “Tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang suatu ayat di dalam Kitabullah dan tidak pula dari sunnah Rasulullah melainkan aku ceritakan kepada kalian tentangnya.” Maka berdirilah Ibnul Kawa, lalu bertanya, “Hai Amirul Mu’minin, apakah makna firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: ‘Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya’ (Adz-Dzariyat: 1)?” Maka Ali r.a. menjawab, “Makna yang dimaksud adalah angin.” Ibnul Kawa menanyakan tentang makna firman selanjutnya: dan awan yang mengandung hujan. (Adz-Dzariyat: 2) Ali r.a. menjawab, bahwa yang dimaksud adalah awan. Lalu Ibnul Kawa bertanya lagi tentang makna firman-Nya: dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah. (Adz-Dzariyat: 3) Ali r.a. menjawab, bahwa yang dimaksud adalah kapal-kapal. Ibnul Kawa bertanya lagi mengenai firman-Nya: (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan (Az-Zariyaf : 4) Maka Ali r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk itu.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dalam sebuah hadis yang marfu’.

Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hani’, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Salam Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Sabrah, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa Sabig At-Tamimi datang kepada Umar ibnul Khattab r.a., lalu bertanya, “Hai Amirul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang makna az-zariyati zarwa.” Maka Umar r.a. menjawab, “Itu adalah angin yang bertiup kencang. Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakannya, tentulah aku tidak akan mengatakannya.” Sabig bertanya, “Maka ceritakanlah kepadaku makna al-mugassimati amra.” Umar r.a. menjawab, “Yang dimaksud adalah malaikat-malaikat. Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakannya, tentulah aku tidak akan mengatakannya.” Sabig At-Tamimi kembali bertanya, “Ceritakanlah kepadaku tentang makna al-jariyati yusra.” Maka Umar r.a. menjawab, “Makna yang dimaksud ialah kapal-kapal. Seandainya aku tidak pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakannya, tentulah aku tidak berani mengatakannya.” Kemudian Khalifah Umar memerintahkan agar Sabig dihukum dera. Maka ia didera sebanyak seratus kali, lalu disekap di dalam sebuah rumah. Setelah sembuh dari luka deranya, ia dipanggil lagi dan dihukum dera lagi, lalu dinaikkan ke atas unta, dan Umar r.a. berkirim surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a. yang isinya mengatakan, “Laranglah orang-orang duduk bersamanya dalam suatu majelis.” Sanksi itu terus-menerus diberlakukan atas dirinya. Akhirnya Sabig datang kepada Abu Musa r.a., lalu bersumpah dengan sumpah berat bahwa dia tidak merasa sakit hati atas apa yang telah dialaminya itu. Maka Abu Musa r.a. berkirim surat kepada Umar r.a. memberitakan hal tersebut. Umar r.a. membalas suratnya itu dengan mengatakan, “Menurut hemat saya, tiadalah dia sekarang melainkan benar dalam pengakuannya. Maka biarkanlah dia bergaul dengan orang-orang dalam majelis mereka.”

Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan bahwa Abu Bakar ibnu Abu Sabrah orangnya daif, dan Sa’id ibnu Salam bukan termasuk ahli hadis. Menurut hemat saya, hadis ini dinilai daif dari segi ke-marfu ‘-annya, dan yang paling mendekati kepada kebenaran hadis ini mauquf hanya sampai pada Umar r.a. Karena sesungguhnya kisah Sabig ibnu Asal ini cukup terkenal, dan sesungguhnya Khalifah Umar r.a. memerintahkan agar Sabig didera karena Sabig dalam pertanyaannya itu kelihatan seperti orang yang mengingkarinya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengetengahkan kisah ini di dalam biografi Sabig secara panjang lebar.

Hal yang sama ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim tidak mengetengahkan riwayat lain kecuali hanya ini.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan az-zariyat ialah angin yang kencang seperti pendapat yang pertama, karena yang dimaksud dengan hamilat ialah awan yang juga sama dengan pendapat yang pertama, karena awan mengandung air. Seperti yang dikatakan oleh Zaid ibnu Amr ibnu Nufail, seorang penyair, dalam salah satu bait syairnya:

Dan aku berserah diri kepada Tuhan yang berserah diri kepada-Nya awan yang membawa air yang tawar.

Adapun jariyat, maka pendapat yang terkenal dari jumhur ulama menyebutkan seperti pendapat di atas, yaitu kapal-kapal yang berlayar dengan mudah di atas permukaan air. Menurut sebagian dari mereka, yang dimaksud adalah bintang-bintang yang beredar pada garis edarnya masing-masing. Demikian itu agar ungkapan ini dimaksudkan bertingkat-tingkat dimulai dari yang paling bawah, kemudian berakhir di yang paling atas. Dengan kata lain, angin di atasnya terdapat awan, dan bintang-bintang di atas kesemuanya itu, dan yang lebih atas lagi ialah para malaikat yang ditugaskan untuk membagi-bagi urusan; mereka turun dengan membawa perintah-perintah Allah, baik yang berupa syariat ataupun yang berupa urusan alam. Ungkapan ini merupakan qasam atau sumpah dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ yang menunjukkan akan kepastian terjadinya hari kembali (hari kiamat).

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Ini adalah sumpah Allah ﷻYang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah ﷻmenjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah ﷻadalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benarbenar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya?

وَالذَّارِيَاتِ “Demi (angin) yang menerbangkan debu,” yakni, angin yang menerbangkan tanah, {ذَرْوًا} “sekuatkuatnya,” dengan kelembutan, kekuatan, dan suaranya yang riuh.

{فَالْحَامِلاتِ وِقْرًا} “Dan awan yang mengandung hujan,” yakni, mendung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah ﷻmemberikan manfaat untuk manusia dan negeri.

{فالْجَارِيَاتِ يُسْرًا} “Dan bintangbintang yang berjalan dengan mudah,” bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan {فالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا} “(malaikatmalaikat) yang membagi-bagi urusan,” para malaikat yang membagibagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah ﷻ. Masing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah ﷻuntuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewenang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

1’4. Surah yang lalu diakhiri dengan penjelasan tentang hari kebangkitan yang pada saat itu akan terbukti ancaman-ancaman Allah yang telah diungkapkan sebelumnya. Oleh karena itu sangat tepat ketika surah ini dimulai dengan kalimat-kalimat yang mengukuhkan ancaman tersebut. Pengukuhan itu diungkapkan dengan sumpah-Nya bahwa semua yang diperingatkan itu pasti akan terbukti. :’demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat, dan demi awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan yang menyuburkan tanah, dan demi kapal-kapal yang berlayar dengan membawa segala keperluan ke seluruh penjuru dengan mu-dah karena tiupan angin yang kuat, dan demi malaikat-malaikat yang membagi-bagi urusan yang diamanahkan kepada mereka, seperti menurunkan hujan, membagi rezeki, dan lainnya


Az-Zariyat Ayat 1 Arab-Latin, Terjemah Arti Az-Zariyat Ayat 1, Makna Az-Zariyat Ayat 1, Terjemahan Tafsir Az-Zariyat Ayat 1, Az-Zariyat Ayat 1 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Az-Zariyat Ayat 1


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Az-Zariyat Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *