Tafsir Al-Qur’an Surah التكوير / At-Takwir Ayat 1 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{80} ‘Abasa / عبس Indeks Al-Qur’an الإنفطار / Al-Infitar {82}

Tafsir Al-Qur’an Surat التكوير / At-Takwir (Menggulung) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 81 Tafsir ayat Ke 1.

Al-Qur’an Surah At-Takwir Ayat 1

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ

iżasy-syamsu kuwwirat

QS. At-Takwir [81] :1

Arti / Terjemah Ayat

Apabila matahari digulung,

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Apabila matahari digulung dan hilang sinarnya. Apabila bintang-bintang berjatuhan lalu hilang cahayanya. Apabila gunung-gunung dihempaskan dari permukaan bumi, sehingga menjadi debu beterbangan. Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan dan dibiarkan. Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan dan dibaurkan, agar Allah membalaskan satu dengan yang lainnya. Apabila lautan dinyalakan, kemudian menjadi api yangbesar dan berkobar. Apabila ruh-ruh dipertemukan dengan yang tubuhnnya. Apabila anak-anak kecil yang dikubur hidup-hidup ditanya pada Hari Kiamat dengan pertanyaan untuk menghiburnya dan membuat menangis orang yang menguburnya, “Karena dosa apakah ia dikubur hidup-hidup?” Apabila catatan-catatan amal disodorkan. Apabila langit dilenyapkan dan dihilangkan dari tempatnya semula. Apabila neraka dinyalakan lalu menyala-nyala. Dan apabila surga didekatkan kepada para penghuninya, yaitu orang-orang yang bertakwa. Apabila semua itu telah terjadi, maka setiap jiwa yakin dan melihat apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan atau keburukan.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

ibnu Abu Maryam, dari ayahnya, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: Apabila matahari digulung. (At-Takwir: 1) lalu beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjelaskan: Matahari digulung di dalam neraka Jahanam.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Muhammad ibnu Hibban, telah menceritakan kepada kami Darasat ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Yazid Ar-Raqqasyi, telah menceritakan kepada kami Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda: Matahari dan bulan adalah dua ekor banteng yang (akan) disembelih kedua-duanya di dalam neraka.

Hadis ini daif karena Yazid Ar-Raqqasyi orangnya daif. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahih tanpa adanya tambahan ini.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mukhtar, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ad-Danaj, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Abu Hurairah, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang telah bersabda: Matahari dan bulan digulung kelak di hari kiamat.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini secara munfarid dan inilah lafaznya, dan sesungguhnya dia mengetengahkan hadis ini hanya dalam Kitab “Permulaan Kejadian”, padahal yang lebih pantas hadis ini diketengahkan dalam tafsir ayat ini atau paling tidak diulangi di sini, sebagaimana kebiasaan Imam Bukhari dalam membahas masalah-masalah yang semisal.

Al-Bazzar telah meriwayatkannya dengan penyajian yang baik, untuk itu ia mengatakan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ziyad Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mukhtar, dari Abdullah Ad-Danaj yangmengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Salamah ibnu Abdur Rahman ibnu Khalid ibnu Abdullah Al-Qisri di masjid ini —yaitu masjid Kufah— dan saat itu Al-Hasan datang, lalu duduk bersamanya, maka ia menceritakan bahwa Abu Hurairah pernah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ekor banteng di dalam neraka yang keduanya disembelih kelak di hari kiamat. Kemudian Al-Hasan bertanya, “Apakah dosa keduanya?” Abdullah Ad-Danaj bertanya, “Apakah Abu Hurairah menceritakannya kepadamu dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, sedangkan engkau katakan, ‘Menurutku Al-Hasan bertanya, apakah dosa keduanya,?”

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa Abu Salamah belum pernah meriwayatkan dari Abu Hurairah melainkan hanya melalui jalur ini. Dan Abdullah ibnuDanaj belum pernah meriwayatkan dari Abu Salamah selain dari hadis ini.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ “Dan apabila bintang-bintang berjatuhan,” yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ “Dan apabila gunung-gunung dihancurkan,” yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ “Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan),” artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulunya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah ﷻ mengingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga.

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ “Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,” yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah ﷻ menghukumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah ﷻ hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, “Jadilah debu.” وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ “Dan apabila lautan dipanaskan,” yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh),” yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebutkan dalam Firman Allah ﷻ,

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا

“Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerombol.” (Az-Zumar: 71).

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا

“Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol.” (Az-Zumar: 73).

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ

“Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka.” (Ash-Shaffat: 22).

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,” tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ “Karena dosa apakah dia dibunuh,” dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. وَإِذَا الصُّحُفُ “Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia),” yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya نُشِرَتْ “dibuka,” dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung.

وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ “Dan apabila langit dilenyapkan,” yaitu dilenya-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah ﷻ yang lain,

يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ

“Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.” (Al-Furqan: 25).

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67).

وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ “Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan,” yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ “Dan apabila surga didekatkan,” yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, عَلِمَتْ نَفْسٌ “maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui,” yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, مَا أَحْضَرَتْ “apa yang telah dikerjakannya,” yaitu yang dikerjakannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah ﷻ,

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا

“Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir.” (Al-Kahfi: 49).

Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah ﷻ di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mempersiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka melakukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, “Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ “Dan apabila matahari digulung.”

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

1-7. Allah mengawali surah ini dengan menyebutkan dua belas peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiama ‘ disebutkan dari ayat 1 s. D. 13. Apabila matahari yang demikian besar digulung dengan mudah seperti halnya serban, hingga cahayanya memudar dan redup. Dan apabila bintang-bintang yang begitu banyak dan menghiasi cakrawala berjatuhan, tidak berada di garis edarnya lagi akibat hilangnya gaya tarikmenarik antar-benda langit. Dan apabila gunung-gunung yang demikian tegar dan kukuh dihancurkan hingga luluh lantak menjadi pasir, kemudian diempaskan oleh angin dahsyat dengan mudahnya seperti gumpalan kapas raksasa yang beterbangan. Dan apabila unta-unta yang bunting dan menjadi harta yang dibanggakan ditinggalkan begitu saja dan tidak lagi dipedulikan dan diurus oleh pemiliknya. Hal ini mengisyaratkan betapa besar kebingungan yang meliputi manusia saat kiamat tiba. Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan untuk diberi balasan bila berbuat aniaya kepada sesamanya. Binatang liar yang saling memusuhi saat itu bisa dikumpulkan menjadi satu dalam suasanya yang sangat menegangkan. Dan apabila lautan dipanaskan dan dijadikan meluap. Air laut memanas akibat munculnya kobaran api mahadahsyat dari dasarnya. Dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh sehingga manusia hidup kembali dalam suasana yang sama sekali berbeda dari kehidupan dunia. Manusia saat itu bergabung dengan manusia lain yang senasib; penaat bersama penaat, begitupun sebaliknya


At-Takwir Ayat 1 Arab-Latin, Terjemah Arti At-Takwir Ayat 1, Makna At-Takwir Ayat 1, Terjemahan Tafsir At-Takwir Ayat 1, At-Takwir Ayat 1 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan At-Takwir Ayat 1


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat At-Takwir Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *