Tafsir Al-Qur’an Surah الإنشقاق / Al-Insyiqaq Ayat 1 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{83} Al-Mutaffifin / المطففين Indeks Al-Qur’an البروج / Al-Buruj {85}

Tafsir Al-Qur’an Surat الإنشقاق / Al-Insyiqaq (Terbelah) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 84 Tafsir ayat Ke 1.

Al-Qur’an Surah Al-Insyiqaq Ayat 1

اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ

iżas-samā`unsyaqqat

QS. Al-Insyiqaq [84] :1

Arti / Terjemah Ayat

Apabila langit terbelah,

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Apabila langit pecah dan terbelah dengan mengeluarkan kabut pada hari kiamat. Dan langit itu taat mematuhi perintah Tuhannya dalam urusan yang diperintahkan kepadanya yaitu untuk terbelah. Dan sudah semestinya langit itu mematuhi perintah-Nya. Apabila bumi diratakan dan diluaskan, dan gunung-gunung dilemparkan pada hari itu. Bumi memuntahkan orang-orang mati yang ada di dalam perutnya sehingga menjadi kosong dari orang-orang mati. Dia patuh kepada Tuhannya dalam urusan yang diperintahkan kepadanya. Dan sudah semestinya bumi itu mematuhi perintah-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Firman Allah Swt:

{إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ}

Apabila langit terbelah. (Al-Insyiqaq: 1)

Yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.

{وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا}

dan patuh kepada Tuhannya. (Al-Insyiqaq: 2)

Yakni tunduk dan patuh kepada perintah Tuhannya yang memerintahkan kepadanya untuk terbelah. Yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.

{وَحُقَّتْ}

dan sudah semestinya langit itu patuh. (Al-Insyiqaq: 2)

Sudah seharusnya langit patuh kepada perintah-Nya, karena Dia Mahabesar, tidak dapat dicegah dan tidak dapat dihalangi apa yang dikehendaki-Nya, bahkan Dia mengalahkan segala sesuatu, dan segala sesuatu tunduk patuh kepada-Nya. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

{وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ}

dan apabila bumi diratakan. (Al-Insyiqaq: 3)

Yakni digelarkan, dihamparkan, dan diluaskan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ali ibnul Husain, bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Apabila hari kiamat terjadi, Allah menghamparkan bumi menjadi rata seperti selembar kulit dihamparkan, sehingga tiada tempat lagi bagi seorang manusia kecuali hanya tempat bagi kedua telapakkakinya (karena semua makhluk pada hari itu telah dibangkitkan). Maka aku adalah orang yang mula-mula dipanggil, sedangkan Jibril berada di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Pemurah. Demi Allah, aku belum pernah melihat-Nya sebelum itu, dan aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya malaikat ini (Jibril) telah memberitakan kepadaku bahwa Engkau telah mengutusnya kepadaku.” Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman, “Dia benar.” Kemudian aku memohon syafaat dan aku katakan, “Ya Tuhanku, tolonglah hamba-hamba-Mu yang menyembah-Mu di berbagai penjuru bumi.”

Ali ibnul Husain menjelaskan, bahwa itulah yang dimaksud dengan Al-Maqamul Mahmud (kedudukan yang terpuji).

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎

{وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ}

dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. (Al-Insyiqaq: 4)

Bumi mengeluarkan semua mayat yang ada di dalam perutnya sehingga bumi kosong dari mereka; menurut Mujahid, Sa’id, dan Qatadah.

{وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ}

dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Al-Insyiqaq: 5)

Penjelasannya sama dengan ayat yang kedua di atas.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

{يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا}

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemuinya. (Al-Insyiqaq: 6)

Yaitu sesungguhnya kamu telah berupaya dan beramal untuk menuju Tuhanmu dengan sebenar-benarnya, kemudian sesungguhnya kamu bakal menjumpai balasannya—apakah baik atau buruk— sesuai dengan amal perbuatanmu.

Pengertian ini diperkuat dengan adanya sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda:

“قَالَ جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحَبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ”

Jibril berkata, “Hai Muhammad, hiduplah kamu sesukamu, maka sesungguhnya kamu bakal mati. Dan sukailah apa yang engkau inginkan, maka sesungguhnya engkau akan meninggalkannya. Dan beramallah sesukamu, maka sesungguhnya kamu akan menjumpai (balasan)nya.”

Tetapi di antara ulama ada yang mengembalikan damir yang terdapat pada firman-Nya, “Famulaqiyah” kepada Rabbika, yang artinya: maka kamu akan menjumpai Tuhanmu, lalu Dia akan membalas semua amal perbuatanmu dan memberimu imbalan atas jerih payahmu. Dengan demikian, berarti kedua pendapat saling berkaitan.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai Manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu. (Al-Insyiqaq: 6) Yakni engkau pasti beramal dan akan menghadap kepada Allah dengan membawa amalmu yang baik atau yang buruk.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu (Al-Insyiqaq: 6) Sesungguhnya jerih payahmu, hai anak Adam, benar-benar lemah. Maka barang siapa yang menginginkan jerih payahnya dicurahkan untuk ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukannya, dan tiada kekuatan baginya untuk mengerjakan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman:

{فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا}

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. (Al-Insyiqaq: 7-8)

Yaitu perhitungan yang mudah, tiada kesulitan. Dengan kata lain, tidak dilakukan secara detail semua amal perbuatannya, karena sesungguhnya orang yang diperiksa dengan pemeriksaan yang teliti dan ketat pasti akan binasa.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Barang siapa yang diperiksa dengan teliti dalam hisab, berarti ia disiksa. Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya, “Bukankah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ telah berfirman: ‘maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (Al-Insyiqaq: 8).” Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab: Hal itu bukanlah pemeriksaan, tetapi pemeriksaan yang sebenarnya ialah orang yang diteliti dalam pemeriksaannya di hari kiamat, maka ia pasti disiksa.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir melalui hadis Ayyub As-Sukhtiyani dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu ‘Ubadah, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al-Khazzaz, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah r.a. yang berkata bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Sesungguhnya tiada seorang pun yang dihisab pada hari kiamat melainkan disiksa. Lalu aku (Aisyah) bertanya, “Bukankah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ telah berfirman: ‘maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (Al-Insyiqaq: 8).” Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab: Hal itu hanyalah pemeriksaan biasa, sesungguhnya orang yang diteliti dalam pemeriksaannya, pasti ia disiksa. Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengisyaratkan dengan jari telunjuknya seakan-akan seperti sedang menotok.

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula dari Amr ibnu Ali, dari Ibnu Abu Addi, dari Abu Yunus Al-Qusyairi, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Al-Qasim, dari Aisyah, lalu disebutkan hadis yang semisal. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui jalur Abu Yunus Al-Qusyairi yang nama aslinya Hatim ibnu Abu Sagirah dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Nasr ibnu Ali Al-Jahdami, telah menceritakan kepada kami Muslim, dari Al-Harisy ibnul Khirrit saudara lelaki Az-Zubair, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa barang siapa yang dihisab dengan teliti, berarti dia disiksa. Ibnu Abu Mulaikah mengatakan bahwa kemudian Aisyah mengatakan bahwa sesungguhnya pemeriksaan yang ringan itu tiada lain hanyalah dihadapkan kepada Allah dan Allah berhadap-hadapan dengan mereka.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdul Wahid ibnu Hamzah ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam salah satu salatnya mengucapkan doa berikut: Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah. Setelah beliau selesai dari salatnya, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab: Ia melihat kepada kitab catatan amal perbuatannya, lalu Allah memaafkan kesalahan yang tercatat di dalamnya. Hai Aisyah, sesungguhnya orang yang diteliti dalam hisabnya di hari itu pasti binasa.

Hadis ini sahih, tetapi dengan syarat Muslim.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

(1-2) Allah ﷻ berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ “Apabila langit terbelah,” yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا “dan patuh kepada Rabbnya,” yakni mendengar perintah Allah ﷻ dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didurhakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

1-2. Apabila langit yang kukuh itu terbelah ketika Allah menghilangkan keseimbangan di antara benda-benda langit. Terjadilah tabrakan antarbenda langit. Langit pun terbelah lalu digulung dan akhirnya terempas tidak berbekas. Dan langit pada saat itu patuh kepada tuhan pencipta dan pengatur-Nya, dan sudah semestinya langit itu patuh, demikian pula alam raya, kepada tuhan (lihat: surah fussilat/41: 11)


Al-Insyiqaq Ayat 1 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Insyiqaq Ayat 1, Makna Al-Insyiqaq Ayat 1, Terjemahan Tafsir Al-Insyiqaq Ayat 1, Al-Insyiqaq Ayat 1 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Insyiqaq Ayat 1


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Al-Insyiqaq Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *