Tafsir Al-Qur’an Surah الضحى / Ad-Dhuha Ayat 1 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{92} Al-Layl / الليل Indeks Al-Qur’an الشرح / Ash-Sharh {94}

Tafsir Al-Qur’an Surat الضحى / Ad-Dhuha (Waktu Matahari Sepenggalahan Naik (Dhuha)) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 93 Tafsir ayat Ke 1.

Al-Qur’an Surah Ad-Dhuha Ayat 1

وَالضُّحٰىۙ

waḍ-ḍuḥā

QS. Ad-Dhuha [93] :1

Arti / Terjemah Ayat

Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Allah bersumpah demi waktu dhuha. Yang dimaksud dengannya adalah seluruh waktu siang. Dia juga bersumpah demi malam saat sunyi dari (kebisingan) makhluk dan sangat gelap. Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya. Adapun makhluk, ia tidak boleh bersumpah dengan selain sang Penciptanya, karena bersumpah dengan selain Allah adalah syirik. Wahai Rasul, tidaklah Tuhanmu meninggalkanmu dan tidak pula benci dengan menangguhkan turunnya wahyu kepadamu.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-Aswad ibnu Qais yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jundub menceritakan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengalami sakit selama satu atau dua malam hingga beliau tidak melakukan qiyamul lail. Maka datanglah kepadanya seorang wanita dan berkata, “Hai Muhammad, menurut hematku setanmu itu tiada lain telah meninggalkanmu,” maksudnya malaikat yang membawa wahyu kepadanya. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menurunkan firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)

Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, Imam Ibnu Abu Hatim, dan Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Al-Aswad ibnu Qais, dari Jundub ibnu Abdullah Al-Bajali yang juga dikenal pula dengan Al-Alaqi dengan sanad yang sama. Menurut riwayat Sufyan ibnu Uyaynah, dari Al-Aswad ibnu Qais, disebutkan bahwa ia pernah mendengar Jundub mengatakan bahwa Malaikat Jibril datang terlambat kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka orang-orang musyik mengatakan, “Muhammad ditinggalkan oleh Tuhannya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj dan Amr ibnu Abdullah Al-Audi, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepadaku Sufyan, telah menceritakan kepadaku Al-Aswad ibnu Qais; ia pernah mendengar Jundub mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah dilempar dengan batu hingga mengenai jari tangannya sampai berdarah, maka beliau mengucapkan kalimat berikut: Tiadalah engkau selain dari jari tangan yang berdarah, di jalan Allah padahal engkau mengalaminya.

Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tinggal selama dua atau tiga malam tanpa mengerjakan qiyamul lail (salat sunat malam hari). Maka ada seorang wanita (musyrik) yang berkata kepadanya, “Menurutku tiada lain setanmu telah meninggalkanmu.” Maka turunlah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)

Menurut konteks hadis yang ada pada Abu Sa’id, suatu pendapat mengatakan bahwa wanita tersebut adalah Jamil, istri Abu Lahab. Disebutkan pula bahwa jari tangan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terluka. Dan mengenai sabdaNabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di atas bertepatan dengan wazan syair telah disebutkan di dalam kitab Sahihain. Akan tetapi, hal yang aneh dalam hadis ini ialah luka di ibu jari itu menjadi penyebab beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ meninggalkan qiyamul lailnya dan juga menjadi turunnya surat ini.

Adapun menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abusy Syawarib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah menceritaka’n kepada kami Sulaiman Asy-Syaibani, dari Abdullah ibnu Syaddad, bahwa Siti Khadijah berkata kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Menurut hemat saya, Tuhanmu telah meninggalkan kamu.” Maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menurunkan firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Malaikat Jibril datang terlambat kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ merasa sangat gelisah karenanya, lalu Siti Khadijah mengatakan, “Sesungguhnya aku melihat Tuhanmu telah meninggalkan kamu, karena aku melihat kegelisahanmu yang berat.” Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa maka turunlah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Demi waktu matahari sepenggalah naik dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3) hingga akhir surat.

Maka sesungguhnya hadis ini berpredikat mursal dari kedua jalur tersebut. Barangkali penyebutan Khadijah bukanlah berdasarkan hafalan, atau memang dia terlibat dan mengatakannya dengan nada menyesal dan bersedih hati; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Sebagian ulama Salaf —antara lain Ibnu Ishaq— menyebutkan, bahwa surat inilah yang disampaikan oleh Jibril a.s. kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika Jibril a.s. menampakkan rupa aslinya kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan datang mendekatinya, lalu turun menuju kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang saat itu beliau sedang berada di Lembah Abtah, seperti yang disebutkan firman-Nya: Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. (An-Najm: 10)

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa saat itulah Jibril menyampaikan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ surat ini yang diawali oleh firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. (Adh-Dhuha: 1 -2)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa setelah diturunkan kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ permulaan wahyu Al-Qur’an, maka Jibril datang terlambat beberapa hari dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sehingga roman muka beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berubah sedih karenanya. Dan orang-orang musyrik mengatakan, “Dia telah ditinggalkan oleh Tuhannya dan dibenci.” Maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menurunkan firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 3) Ini merupakan sumpah dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ dengan menyebut waktu duha dan cahaya yang Dia ciptakan padanya.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

(1-3) Allah ﷻ bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, إِذَا سَجَى “apabila telah sunyi” dan gelap gulita, atas perhatian Allah ﷻ terha-dap RasulNya seraya berfirman, مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ “Rabbmu tiada mening-galkan kamu,” yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, وَمَا قَلا “dan tiada (pula) benci kepadamu,” sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah ﷺ sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah ﷻ padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah ﷺ dan perhatian Allah ﷻ pada beliau.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Demi waktu duha ketika matahari naik sepenggalah, atau demi waktu siang seluruhnya. Penyebutan waktu duha mengisyaratkan bahwa tenggang waktu ketika nabi tidak menerima wahyu beberapa lama bagaikan malam yang gelap, sedangkan turunnya surah ini setelah itu bagaikan fajar yang menyingsing. 2. Dan demi malam apabila telah sunyi dan gelap. Ketika matahari bergeser ke tempat lain, belahan bumi yang ditinggalkannya beranjak tenang dan gelap, menjadi waktu yang tepat untuk istirahat.


Ad-Dhuha Ayat 1 Arab-Latin, Terjemah Arti Ad-Dhuha Ayat 1, Makna Ad-Dhuha Ayat 1, Terjemahan Tafsir Ad-Dhuha Ayat 1, Ad-Dhuha Ayat 1 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Ad-Dhuha Ayat 1


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat Ad-Dhuha Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *