Tafsir Al-Qur’an Surah النصر / An-Nasr Ayat 1 Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{109} Al-Kafirun / الكافرون Indeks Al-Qur’an اللهب / Al-Masad {111}

Tafsir Al-Qur’an Surat النصر / An-Nasr (Pertolongan) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 110 Tafsir ayat Ke 1.

Al-Qur’an Surah An-Nasr Ayat 1

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ

iżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-ḥ

QS. An-Nasr [110] :1

Arti / Terjemah Ayat

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Wahai Rasul, apabila kemenangan atas kaum kafir Quraisy telah terwujud untukmu dan penaklukan Makkah pun telah terlaksana untukmu.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Khalifah Umar memasukkan diriku ke dalam kelompok orang-orang tua yang pernah ikut dalam Perang Badar. Maka seseorang dari mereka merasa kurang enak dengan keberadaanku bersama dengan mereka, akhirnya ia berkata, “Mengapa orang seusia dia dimasukkan ke dalam golongan kita, padahal kita mempunyai anak-anak yang seusia dengannya.”

Maka Umar menjawab, “Sesungguhnya dia termasuk seseorang yang telah kalian ketahui.” Pada suatu hari Umar memanggil mereka, dan ia memasukkan diriku ke dalam golongan mereka. Dan aku mengerti bahwa tidaklah dia memanggilku dan menggabungkan diriku bersama mereka di hari itu melainkan dengan tujuan hendak memperlihatkan kadar ilmuku kepada mereka. Lalu Umar membuka pembicaraan, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang makna firman Allah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1)

Maka sebagian dari mereka menjawab.”Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, apabila kita peroleh kemenangan dan pertolongan.” Dan sebagian dari mereka hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun. Maka Umar berkata kepadaku, “Apakah demikian pula menurutmu, hai Ibnu Abbas?” Aku menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Bagaimanakah menurutmu?”

Maka aku menjawab, bahwa itu merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Yang diberitahukan kepadanya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) Maka itulah alamat dekatnya ajalmu. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat. (An-Nasr: 3)

Maka Umar ibnu Khattab berkata, “Aku pun sependapat denganmu.” Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid. Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Humaid, dari Mahran, dari As-Sauri, dari Asim, dari Abu Razin, dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkan kisah yang semisal dengan kisah di atas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Ata, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: Ini adalah ucapan belasungkawa terhadapku.

Karena sesungguhnya beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ wafat pada tahun itu juga; Imam Ahmad meriwayatkan secara munfarid.

Al-Aufi telah meriwayatkan hal yang semisalnya dari Ibnu Abbas. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Mujahid, Abul Aliyah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya bahwa hal ini merupakan berita dekatnya ajal Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Isa Al-Hanafi, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Hazim, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berada di Madinah, tiba-tiba beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, telah datang pertolongan Allaah dan kemenangan, telah datang penduduk Yaman.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman itu?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, “Kaum yang lembut hatinya dan lunak wataknya. Iman adalah Yaman dan fiqih adalah Yaman, dan hikmah adalah Yaman.”

Kemudian Ibnu Abdul A’la meriwayatkannya dari Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Ikrimah secara mursal.

Imam Tabrani mengatakan. telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al-Juhdari, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Hilal ibnu Kliabbab, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) hingga akhir surat, ini merupakan berita dekatnya ajal Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saat surat ini diturunkan. Maka kelihatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lebih mempergiat kesungguhannya lebih dari sebelumnya dalam masalah akhirat. Dan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sesudah itu bersabda: “Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan telah datang penduduk Yaman.” Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman itu?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Kaum yang memiliki hati yang lembut dan watak yang lunak. Iman adalah Yaman, dan fiqih adalah Yaman.”

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Asim ibnu Abu Razin, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengetahui bahwa sesungguhnya ini merupakan berita dekatnya ajal dirinya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Menurut satu pendapat mengatakan bahwa ketika diturunkan surat ini (An-Nasr).

Waqi telah menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Asim, dari Abu Razim bahwa Umar pernah bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. tentang makna firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) Maka Ibnu Abbas menjawab, bahwa surat ini diturunkan sebagai pertanda dekatnya kewafatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ahmad ibnu Umar Al-Waki’i, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aun, dari Abul Umais, dari Abu Bakar ibnu Abul Jahm, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Utbah. dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa surat Al-Qur’an yang paling akhir penurunannya adalah yang diawali dengan firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1)

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi At-Ta-i, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa ketika diturunkan surat ini yang diawali dengan firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ inembacanya hingga selesai, lalu bersabda:

Manusia itu (orang-orang mukmin) baik dan aku beserta para sahabatku baik. Tiada hijrah sesadah kemenangan (atas kota Mekah), tetapi (yang masih ada ialah) jihad dan niat.

Maka Marwan (yang saat itu menjadi khalifah) berkata kepada Abu Sa’id, ”Kamu dusta,” sedangkan di hadapannya terdapat Rafi’ ibnu Khadij dan Zaid ibnu Sabit sedang duduk bersamanya di atas dipan. Maka Abu Sa’id menjawab, “Seandainya dua orang ini menghendaki, tentulah mereka berdua menceritakan hadis ini kepadamu. Akan tetapi, yang ini merasa takut kepadamu bila kamu cabut dia dari kepemimpinan kaumnya, dan orang ini merasa takut bila kamu tidak memberinya sedekah (zakat).

Maka Marwan mengangkat cemetinya dengan maksud akan memukul Abu Sa’id; dan ketika kedua teman duduknya itu melihat situasi memanas, maka keduanya berkata mendukung Abu Sa’id, “Dia benar.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid. Dan hadis yang diingkari oleh Marwan ini terhadap orang yang mengatakannya (yaitu Abu Sa’id) bukanlah hadis yang munkar. Karena sesungguhnya telah terbuktikan melalui riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda di hari kemenangan:

Tiada hijrah lagi (sesudah ini), tetapi jihad dan niat;dan apabila kalian diperintahkan untuk berangkat berperang, maka berangkatlah.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di dalam kitab sahih masing-masing.

Dan pendapat yang dikemukakan oleh sebagian sahabat dari kalangan orang-orang yang ada di dalam majelis Umar saat itu mempunyai alasan yang benar dan baik. Mereka mengatakan bahwa Allah telah memerintahkan kepada kita bila Dia telah memenangkan kita atas kota-kota besar dan benteng-benteng musuh, hendaknya kita memuji kepada Allah, bersyukur, dan bertasbih kepada-Nya. Yakni mengerjakan salat dan memohon ampun kepada-Nya.

Hal ini telah terbukti kebenarannya dengan adanya salat yang dilakukan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di Mekah pada hari penaklukannya, yaitu diwaktu duha sebanyak delapan rakaat. Maka sebagian orang mengatakan bahwa salat itu adalah salat duha. Tetapi disanggah bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ belum pernah membiasakan salat tersebut, lalu mengapa beliau melakukan salat itu, padahal beliau dalam keadaan musafir dan tidak berniat untuk mukim di Mekah? Karena itulah maka beliau tinggal di Mekah hanya sampai akhir Ramadan, yang lamanya kurang lebih sembilan belas hari; dan selama itu beliau mengqasar salatnya. Lalu beliau berbuka bersama semua tentara kaum muslim. yang saat itu jumlahnya kurang lebih sepuluh ribu personel. Mereka yang menyanggah pendapat pertama mengatakan bahwa salat yang dilakukan oleh mereka tiada lain adalah salat Al-Fat-h. Mereka mengatakan bahwa untuk itu maka dianjurkan bagi pemimpin pasukan apabila mendapat kemenangan atas suatu negeri, hendaknya ia melakukan salat di dalam negeri itu saat pertama kali dia memasukinya sebanyak delapan rakaat. Hal yang semisal telah dilakukan oleh Sa’d ibnu Abu Waqqas di hari kemenangan atas kota-kota besar (negeri Persia).

Kemudian sebagian dari ulama mengatakan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengerjakan salat yang delapan rakaat itu dengan sekali salam. Tetapi menurut pendapat yang sahih, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan salam pada setiap dua rakaatnya, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan salat pada tiap dua rakaat di hari kemenangan atas kota Mekah.

Adapun menurut penafsiran Ibnu Abbas dan Umar r.a. yang menyatakan bahwa surat ini merupakan pemberitahuan akan dekatnya kewafatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka seperti berikut: Ketahuilah bahwa apabila Aku taklukkan Mekah untukmu karena ia adalah kota yang telah mengusirmu, dan manusia mulai memasuki agama Allah secara berbondong-bondong, maka sesungguhnya akan Kami selesaikan tugasmu di dunia. Karena itu bersiap-siaplah kamu untuk datang menghadap kepada Kami, maka negeri akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia. Dan sesungguhnya’Tuhanmu akan memberimu pahala yang membuatmu merasa puas dengannya. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: maka bertasbilah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (An-Nasr: 3)

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mahbub, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Hilal ibnu Khabbab, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika turun firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) sampai akhir surat. Menurut Ibnu Abbas, ini merupakan berita tentang dekatnya masa kewafatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Sesudah itu beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kelihatan lebih meningkatkan kesungguhannya dalam urusan akhirat. Dan sesudah itu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: “Telah datang kemenangan dan telah datang pertolongan Allah, dan telah datang penduduk Yaman.” Maka seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman itu?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, “Mereka adalah kaum yang berhati lunak dan berwatak lemah lembut. Iman adalah Yaman, hikmah adalah Yaman, dan fiqih adalah Yaman.”

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam rukuk dan sujudnya memperbanyak bacaan: Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan Kami; dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah, ampunilah aku.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan demikian sebagai pengamalannya terhadap makna surat ini.

Dan Jamaah lainnya telah mengetengahkannya selain Imam Turmuzi melalui hadis Mansur dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Adiy, dari Daud, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Aisyah telah mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di akhir usianya memperbanyak bacaan: Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: Sesungguhnya Tuhanku telah memberitahuku bahwa aku akan melihat suatu tanda (dekatnya ajalku) di kalangan umatku, dan Dia memerintahkan kepadaku apabila telah melihatnya untuk (memperbanyak) bacaan tasbih, tahmid, dan istigfar kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat. Dan sesungguhnya aku telah melihatnya, yaitu melalu ifirman-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (An-Nasr: 1-3)

Imam Muslim meriwayatkan melalui jalur Daud ibnu Abu Hindun dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Sa’ib, telah menceritakan kepada kami Hafs, telah menceritakan kepada kami Asim, dari Asy-Sya’bi, dari Ummu Salamah yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di penghujung usianya, tidak sekali-kali beliau berdiri, duduk, pergi, dan datang melainkan membaca: Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku telah melihatmu memperbanyak bacaan tasbih dan tahmid kepada Allah, tidak sekali-kali engkau pergi, datang, berdiri, atau duduk melainkan engkau membaca, “Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya.” Maka beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, bahwa sesungguhnya beliau diperintahkan untuk melakukannya, lalu beliau membaca firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1), hingga akhir surat.

Hadis ini berpredikat garib. Kami telah menulis hadis tentang kifarat majelis dengan berbagai macam jalur periwayatan dan lafaznya dalam suatu pembahasan yang terpisah, maka tidak perlu dikemukakan di sini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ yang mengatakan: Apabila telah datang per tolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1), hingga akhir surat. Maka beliau memperbanyak bacaan berikut bila sedang rukuk, yaitu: Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan kami;dan dengan memuji kepada Engkau, ya Tuhan kami, ampunilah daku; sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Sebanyak tiga kali.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis mi secara munfarid. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Amr ibnu Murrah, dari Syu’bah, dari Abu Ishaq dengan sanad yang sama.

Yang dimaksud dengan al-fath di sini ialah kemenangan atas kota Mekah, menurut kesepakatan semuanya. Karena sesungguhnya kabilah-kabilah Arab pada mulanya menggantungkan keislaman mereka dengan kemenangan atas kota Mekah. Mereka mengatakan, “Jika dia (Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) beroleh kemenangan atas kaumnya, berarti dia benar seorang nabi.” Dan ketika Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ memenangkannya atas kota Mekah, maka masuklah mereka ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.

Belum lagi berlalu masa dua tahun, seluruh penduduk Jazirah Arabia telah beriman, dan tiada suatu kabilah Arabpun melainkan mereka menampakkan keislamannya. Segala puji dan harapan hanyalah dipanjatkan bagi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎

Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya telah meriwayatkan dari Amr ibnu Salamah, bahwa ketika kemenangan atas kota Mekah diraih oleh kaum muslim, maka semua kaum berlomba-lomba menyatakan keislamannya kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dan sebelumnya semua kaum menggantungkan keislaman mereka dengan kemenangan atas kota Mekah. Mereka mengatakan, “Biarkanlah dia dan kaumnya; jika dia dapat menang atas mereka, berarti dia adalah seorang nabi yang baru.”

Kami telah menulis kisah tentang perang kemenangan atas kota Mekah di dalam kitab kami yang berjudul As-Sirah. Untuk itu bagi siapa yang ingin memperoleh keterangan yang lebih detail, hendaklah ia merujuk kepada kitab tersebut; segala puji bagi Allah atas karunia-Nya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Abu Ammar, telah menceritakan kepadaku seorang tetangga, dari Jabir ibnu Abdullah. Dia menceritakan bahwa ketika ia baru datang dari suatu perjalanan, tiba-tiba Jabir ibnu Abdullah datang berkunjung ke rumahnya. Jabir mengucapkan salam kepadanya, kemudian aku ceritakan kepadanya tentang terpecah belahnya manusia dan hal ikhwal kebid’ahan yang mereka buat-buat. Maka Jabir saat itu juga menangis. Kemudian Jabir r.a. berkata bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

Sesungguhnya manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, dan kelak mereka akan keluar darinya secara berbondong-bondong (pula).

Demikianlah akhir tafsir surat An-Nasr, segala puji bagi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ atas semua karunia-Nya.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Tafsir Ayat:

(1-3) Dalam surat yang mulia ini terdapat berita gembira dan sekaligus perintah untuk RasulNya pada saat berita gembira itu terwujud, serta terdapat sebuah isyarat dan peringatan akan beberapa hal yang disebabkan olehnya.

Berita gembira yang dimaksud adalah berita gembira perto-longan Allah ﷻ untuk RasulNya, penaklukkan Makkah dan masuk-nya orang-orang فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا “ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong,” karena kebanyakan dari mereka menjadi pemeluk dan penolongnya setelah sebelumnya mereka memusuhinya. Berita gembira yang disampaikan ini benar-benar terjadi.

Sedangkan perintah setelah terwujudnya kemenangan dan penaklukan adalah perintah Allah ﷻ untuk RasulNya agar bersyukur kepada Allah ﷻ atas hal itu serta memahasucikan dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya.

Dan berkaitan dengan isyarat, terdapat dua isyarat dalam ayat ini: Pertama, isyarat bahwa kemenangan akan terus berlangsung bagi Islam dan semakin bertambah manakala terwujud tasbih (memahasucikan) Allah dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya dari RasulNya, karena hal ini termasuk rasa syukur, dan Allah ﷻ berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

“Sungguh jika kalian bersyukur, pasti Kami akan tambahkan (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Dan hal itu telah terwujud di masa Khulafa` Rasyidin dan generasi setelahnya dari umat ini. Dan pertolongan Allah ﷻ senantiasa berlangsung hingga Islam mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh agama-agama lain dan banyak orang yang masuk ke dalam Islam dalam jumlah yang belum pernah ada pada agama lain, hingga terjadilah pembangkangan terhadap perintah Allah ﷻ dalam umat ini sehingga mereka tertimpa perpecahan dan terjadi-ah apa yang terjadi. Meski demikian, umat dan agama ini tetap memiliki rahmat dan kelembutan Allah ﷻ yang tidak pernah terlintas di benak atau berlalu dalam khayalan.

Isyarat kedua adalah dekatnya ajal Rasulullah ﷺ. Alasannya adalah karena usia beliau adalah usia mulia yang dengannya Allah ﷻ bersumpah, dan Allah ﷻ telah memberitahukan bahwa hal-hal utama itu ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dan lainnya. Allah ﷻ memerintahkan RasulNya untuk bertahmid dan beristighfar dalam kondisi itu sebagai sebuah isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat. Hendaklah beliau mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabb beliau dan menutup usianya dengan sesuatu paling istimewa yang beliau miliki. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan pada beliau. Rasulullah ﷺ menafsirkan al-Qur`an dan mengucapkan tasbih dan istighfar dalam shalat. Beliau banyak membaca ketika rukuk dan sujud,

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ.

“Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu ya Allah, Rabb kami. Ya Allah, ampunilah aku.” (Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, no. 4967, 4967 dan Shahih Muslim, no. 484)

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Wahai nabi Muhammad, apabila telah datang pertolongan Allah kepadamu dan pengikutmu dalam menghadapi kaum kafir quraisy, dan telah datang pula kemenangan kepadamu dengan penaklukan mekah menjadi kota yang suci kembali dari kesyirikan dan kekafiran, 2. Dan engkau lihat manusia dari seluruh penjuru jazirah arab berbondong-bondong masuk agama Allah, yakni agama islam, setelah sebelumnya mereka masuk islam secara perorangan, .


An-Nasr Ayat 1 Arab-Latin, Terjemah Arti An-Nasr Ayat 1, Makna An-Nasr Ayat 1, Terjemahan Tafsir An-Nasr Ayat 1, An-Nasr Ayat 1 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan An-Nasr Ayat 1


Koreksi kesalahan penulisan Surah / Ayat / Terjemah / Tafsir? Klik Di Sini


Tafsir Surat An-Nasr Ayat: 1 | 2 | 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *